30 Juni 2011

Menikah Itu Bukan dengan Orang yang Bisa Hidup denganmu


Perempuan Bulan Juni
Oleh: Rohani Syawaliah

Abjad bertebaran membentuk kata
Satu di antaranya bisa saja berbentuk cinta
Ada di dalam hati manusia
Seorang perempuan melenguh terluka
Dirinya dililit rantai kata
Perempuan itu lahir dibulan Juni
Dia berharap seorang kesatria akan menghunus pedang membebaskannya
Melepaskan jeratan rantai itu selamanya
Sayangnya tak ada yang mampu membaca dirinya
Semua kesatria buta aksara
Perempuan bulan Juni itu
Berdarah
Menanah
Napasnya tinggal satu-satu
Akhirnya dia mati tanpa mendapatkan kebebasan dari rantai kata



Akhir bulan begini menarik sekali bisa membicarakan soal pernikahan. Soalnya teringat sama puisinya Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni. Sayalah sang perempuan yang lahir di bulan Juni yang baru saja berusia 25 tahun. Sempat menjadi orang yang paling galau di dunia ini. Bisa jadi itu sebuah pikiran saja yang tak menentu. Saya menamainya galau tapi Jaka bilang itu adalah HBL. Haus belaian lelaki. Mungkin itu benar. Sebagai seorang perempuan normal, saya butuh seorang lelaki di dalam kehidupan saya. Bukan hanya soal seks. Pernikahan bukan hanya masalah seks. Karena menurut saya pernikahan adalah sebuah komitmen. Sebuah pelayaran di dalam kehidupan. Harus ada kerja sama yang baik agar kapal itu bisa sampai di tujuan yang sebenarnya. Apabila ada yang berkhianat, kapal mungkin karam.


Lelaki seperti apa sih yang saya butuhkan di dalam kehidupan saya yang sunyi ini?

Saya pikir saya butuh seseorang yang mengenali saya melalui blog ini. Paham setiap emosi dari kata yang mengalir di semua postingan yang menyebar di dalamnya. Tapi setiap laki-laki yang mampir dalam kehidupan saya bukanlah seorang pembaca. Saya tidak suka itu. Saya tidak berharap dia adalah seorang penulis. Saya hanya berharap dia adalah seorang pembaca yang suka dengan semua tulisan saya. Masalah suka atau tidak suka adalah bonus yang harus saya terima. Tapi saya benar-benar ingin, dia pembaca blog ini.

Baru-baru ini saya menemukan seorang lelaki lagi. Hampir mendekati lelaki yang saya inginkan. Dia tidak merokok (ini sangat penting), dia berisi mendekati gendut (saya suka itu), dan dia membuat saya jatuh cinta. Sekarang saya merasa saya tidak membutuhkan dia dalam kehidupan saya. Saya berniat untuk melupakan perasaan saya karena dia tidak mengenali saya melalui blog ini. Entah dia pernah membaca atau tidak, saya tidak pernah tahu. Satu hal yang jelas, dia tidak pernah membahas satu tulisan saya pun ketika bertemu dengan saya.

Saya kecewa.

Saya memilih untuk berpetualang lagi mencari seseorang yang lain. Seseorang yang akan saya nikahi. Saya tidak ingin menikahi seseorang yang bisa hidup dengan saya selamanya, saya hanya ingin menikah dengan seseorang yang tak bisa hidup sedetik pun tanpa saya. Begitu pula saya. Ketika saya masih bisa melanjutkan hidup saya tanpanya, berarti dia bukanlah orang yang saya butuhkan untuk mengijabkabulkan saya.

Apakah ini idealis atau romantis? Saya tidak tahu. Tapi saya tidak ingin memaksa hati saya untuk mencintai seseorang yang sepertinya bukan mencintai sisi yang saya inginkan di dalam diri saya. Dia tidak melihat bagian dari diri saya yang ‘itu’. Sesuatu yang hanya dia temukan di dalam blog ini. Sesuatu yang tidak akan muncul dari bibir saya. Sesuatu yang ada tapi tidak terlihat oleh mata biasa. Saya ingin dia ‘membaca’ diri saya. Tapi ternyata dia ‘buta aksara’.






Related Posts

Menikah Itu Bukan dengan Orang yang Bisa Hidup denganmu
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).