11 Juni 2011

KUNTILANAK: TAK INGIN KUMENINGGALKANMU



(gambar pinjem di sini)

Sebuah kota yang terletak tepat di Garis Khatulistiwa. So, jangan pernah berharap mendapatkan hari yang dingin selama di sini. Kalo malam sih iya! Pastinya dong! Matahari kan nggak menyinari Pontianak lagi kalo malem. Tapi saya suka banget berada di sini! Saya bahkan memutuskan beberapa tahun lagi tetap berada di sini.


Asalnya sih saya memang dari Kalimantan Barat. Jaraknya sekitar 6 jam dari Pontianak ke kampung saya. Namanya Jawai. Banyak pantainya lagi di kampung saya. Nggak kayak Pontianak nih, masa’ genangan aer di Jungkat disebut pantai. Penipuan besar-besaran ni. But, eniwei saya nggak mau bahas itu sih. Saya hanya ingin menceritakan kenapa saya terdampar di Pontianak ini.

Owh ngomong-ngomong soal namanya yang menyeramkan. Benar kok guys, namanya itu berasal dari nama hantu. Kuntilanak dalam Bahasa Melayu disebut Puntianak. Lama kelamaan ditulis Pontianak. Meskipun sebenarnya banyak yang masih mengucapkannya ‘puntianak’. Maklum ini memang yang aslinya sih. Asal muasalnya sih katanya dulu di tempat ini banyak hantunya. Terus ditaklukkan oleh sang raja. Kemudian untuk mengingat nama sang hantu (sang hantu? Apalagi ini? Nggak uye banget deh) maka tempat ini pun dinamai sebagai Puntianak (Pontianak).

Saya pertama kali datang sebagai penduduk di kota ini tahun 2005. Saya lulus di sebuah universitas negeri di sini. Namanya Untan atau Universitas Tanjungpura. Selain karena letaknya masih di Kalimantan Barat, biaya semesterannya juga murah banget. Maklum keluarganya saya bukanlah keluarga kaya. Tapi dibilang nggak punya sih nggak juga ya? Cukuplah buat kuliah di Untan. Seberapa murahkah biayanya? Saya cukup membayar uang semesteran itu nggak sampe setengah juta. Murah banget kan untuk sebuah universitas negeri? Padahal peminatnya minta ampun banyaknya. Saya lulus sebagai mahasiswa reguler A. kalo reguler B sih nggak usah diceritain. Muahalllll!

Saya suka tinggal di Pontianak karena beberapa hal yang mungkin nggak akan saya temukan di tempat lain. Untuk sementara ini deh iya! Apa-apa aja tuh?
1. Air sungai yang katanya bisa membuat orang akan kembali ke sini kalo sudah meminumnya. Walaupun sekarang nggak ada lagi yang mau minum. Wong warnanya minta ampun buteknya, udah gitu tercemar… huwekkkksss…

2. Tiap malam lebaran ada festival maen meriam karbit loh… walaupun saya takut sama bunyinya yang minta ampun nyaringnya, tapi saya suka banget liat meriamnya (kalo lagi nggak dimaenin, gede bangetttttt)

3. Saya menjadi penyiar di Radio Volare! Cihuyyyy! Impian saya berhasil saya wujudkan di sini.

4. Saya bertemu dengan banyak penulis berbakat di sini.

5. Pontianak nggak kayak Jakarta, bebas macet bo’! Walaupun nggak bebas banjir dadakan yang datang tiba-tiba ngilangnya juga tiba-tiba!

6. Saya suka makanan khasnya yang ada setiap Bulan Ramadhan. Sotong pangkong!







Sotong pangkong adalah hewan laut yang dikenal dengan nama cumi-cumi. Cara membuatnya juga gampang. Cumi-cumi dikeringkan. Terus dipanggang, setelah itu dipangkong (dipukul dengan palu kayu sampe agak lembut gitu, entah bagaimana menjelaskannya). Lalu disiram pake saus kacang, manis-manis pedes gitu, ada butiran kacang tanahnya. Tapi nggak kental sodara-sodara! Sedep abissss!


7. Saya juga seneng di sini karena rasanya berada di luar negeri (negera jiran kita, Malaysia). Bahasa yang digunakan tuh serupa dengan bahasa yang ada dalam pelem Upin Ipin. Lucu kan?

8. Saya patah hati dan jatuh cinta di sini! Beberapa mantan saya ada di Pontianak. Saya nggak mau meninggalkan Pontianak bukan berarti saya pengen balikan sama mereka. Sama sekali tidak. Saya nggak tega meninggalkan mereka karena saya sangat berharap suatu hari saya bisa nggak sengaja ketemu mereka lagi dan membiarkan mereka berbicara dalam hati. Mau tahu ucapan apa yang saya ingin mereka katakan dalam hati mereka itu?

“Ya ampun, sekarang dia beda banget sama jaman dulu pas pacaran sama gue. Ternyata gue salah ninggalin dia, dia harusnya adalah orang terakhir yang gue pilih buat jadi istri gue. Dia cantik banget ya sekarang? Novelnya entah telah berapa kali diterbitkan? Apa? Dia penyiar radio? Hebat banget dia! Dapet beasiswa ke luar negeri? Pinter banget dong dia? Kok dulu gue nggak nyadar semua kelebihan dia ya? Kok yang keliatan kekurangan dia doang?”

Terus drama ini akan slow motion (gerak lambat, apakah bener itu tulisannya?)

Scene selanjutnya saya akan menebar senyum yang sangat manis untuk mantan-mantan saya. Sambil melambaikan tangan ala Miss Universe.

Gubrak! Ternyata saya berkhayal.

Segitu aja deh semuanya tentang aku dan Pontianak. Pengen lebih jelasnya datang aja langsung. Lebih baik lagi datangnya pas terjadinya titik kulminasi. Jadi bisa menyaksikan sendiri keajaiban alam. Bagaimana rasanya nggak punya bayangan? (seingat saya sih emang begitu kejadiannya, bayangan kita menghilang)

So, keep blogging, happy writing!

Related Posts

KUNTILANAK: TAK INGIN KUMENINGGALKANMU
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).