Jalan Mana yang Harus saya Pilih?

Sumber gambar di sini.

Saya tulis postingan ini dengan jutaan butiran air mata yang tertahan. Saya sebenarnya ingin lebih kuat. Apalagi saya sekarang bukanlah di tempat yang tempat untuk menangis. Saya berada di studio Volare tempat saya bekerja. Khusus hari Selasa saya hanya bersiaran hingga pukul 4. Jadi saya bisa menumpang internetan sebentar untuk mengisi blog saya. Maklum saya harus memotong biaya modem saya untuk menghemat pengeluaran bulanan. Selain juga provider yang saya pilih kemarin semakin lelet biaya bulanannya juga naik hampir 50%. Cukup mahal untuk kantong mahasiswa seperti saya. Saya harus menabung juga untuk membeli rumah yang saya inginkan selama ini. Bukankah sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit?


Jadi saya mulai mengurangi pengeluaran yang bisa saya hilangkan.

Cukup soal itu. Saya sekarang ingin mengeluarkan sesuatu yang sangat mengganggu kehidupan saya. Ini adalah kenyataan yang harus saya hadapi ketika saya memenangkan perlombaan dengan sel telur yang berebutan masuk ke rahim ibu saya.

Saya sampai sekarang hanya bisa menahan kenyataan yang hampir meledakkan kepala saya. Satu-satunya orang yang bisa saya jadikan tempat menampung semua cerita menyebalkan kehidupan saya telah menghadap Tuhannya. Jadi di sinilah saya harus bersandar, di sini. Di dinding blog ini. Ketika saya benar-benar hampir jatuh. Air mata hanya membuat saya semakin lemah. Karena itu tidak akan mengubah apa-apa. Semua tangisan itu sudah cukup.

Sejujurnya saya ingin segera membebaskan keluarga saya dari cengkeraman seorang lelaki yang harus saya panggil ‘abah’. Lelaki yang di belahan dunia mana pun tidak pernah menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Ibu saya seakan menjadi budak untuk laki-laki seperti itu. Anak-anaknya juga disiksa satu demi satu. Termasuk saya. Tapi saya adalah bagian yang paling beruntung dari yang empat saudara saya yang lain. karena saat saya berusia dua tahun enam bulan saya sudah berpisah dari kedua orang tua saya.

Saya menjalani kehidupan normal bersama nenek dan kakek saya. Mutiara yang mencerahkan kehidupan saya.
*air mata saya hampir menitik lagi*
Kemudian saya melepaskan diri dari seluruh keluarga saya ketika saya berusis lima belas tahun. Meninggalkan laki-laki yang menjadi parasit dalam keluarga saya.

Dia? Banyak kata akan menggambarkan kepribadiannya. Dia parasit. Tidak pernah sekalipun dia menjalankan kewajibannya menafkahi anak dan istrinya. Tiga puluh tahun tidak mengubah apa-apa. Semua yang saya makan adalah hasil kerja keras ibu saya. Ibu saya dalah wanita paling hebat. Dia menjalankan berbagai macam usaha untuk memenuhi kebutuhan perut anak-anaknya. Untungnya sekarang saya telah memiliki pekerjaan sendiri untuk menopang kehidupan saya sendiri. Walaupun terkadang tidak mencukupi tapi saya masih bisa makan setiap hari itu adalah hal yang paling menyenangkan.

Dia suka menyakiti tidak hanya secara fisik, tapi juga secara psikologis. Ibu saya sering dikasari. Kami semua bahkan trauma apabila menghadapi kemarahannya. Dia bisa marah berhari-hari. Membanting semua barang. Melarang memasak. Membuat listrik konslet. Melempar anaknya ke halaman. Jutaan perlakuan kami terima sebagai anak. Saya memang tidak pernah dikasari di tubuh tapi saya tahu jiwa saya sangat sakit. Ajaibnya lagi, apabila dia sudah reda kemarahannya, semua barang yang telah hancur oleh tangannya harus diganti oleh ibu. Dengan barang baru yang sama persis.

Beberapa hari ini saya juga mendengar kabar yang tidak menyenangkan. Dia membuat keributan lagi di rumah. Alasan klasik. Dia ingin makan siang. Dilayani seperti raja. Tapi ikan yang sedang digoreng belum matang. Ibu saya yang sudah sangat kesal akhirnya memberikan ikan yang setengah matang itu untuknya. Dia? Marah besar. Merasa direndahkan.

Dia lalu mulai menjadi Vlad Dracula. Mendorong ibu saya hingga pingsan. Kemarahan itu berlanjut hingga hari ini. Dia memaksa ibu saya untuk pensiun. Padahal usia ibu saya baru 48 tahun. Sedang dalam pendidikan S1. Sayang sekali harus pensiun dan hanya mendapatkan uang pensiun yang kecil. Adik-adikku yang butuh biaya ada 3 orang. Mereka butuh biaya yang besar untuk pendidikan mereka.

Jangan bercanda! Pensiun itu bukan soal kecil!

Puncaknya, saya ingin melaporkan semuanya pada Komisi Perlindungan Anak. Cukup sudah yang adik-adikku lihat di sana. Mereka harus ke sini. Tinggal denganku.
Tapi saya harus menelan pil pahit lagi. Kalimat yang sama seperti dulu. Ibu bilang: “Biarlah seperti ini. Kak Ngah mengerti kan?” (Kang Ngah: panggilan untuk anak kedua di Kabupaten Sambas)
Saya ingin berteriak ke muka ibu saya dan bilang: “Belum cukupkah tiga puluh tahun ini? Belum cukupkah semua penderitaan ini? Apakah harus ada yang terbunuh untuk menghentikannya? Apa yang membuat Umak takut? Dia harus dipenjara!” (umak: panggilan untuk ibu saya)

Laki-laki itu gila. Laki-laki itu sakit jiwa. Kenapa dia berhasil membuat ibu saya menuruti semua kemauannya? Ilmu apa yang kamu punya?

Sebenarnya saya ingin detik ini juga mendatangi Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan. Tapi ketika mendengar ibu saya bilang begitu, saya tidak mampu menggerakkan tubuh saya. Ibu saya adalah segalanya. Kenapa dia betah dengan semua penyiksaan itu?

Saya yakin Tuhan pun tidak akan setuju umatnya menghadapi cobaan hanya dengan kesabaran. Bukankah manusia diberikan kemampuan untuk berikhtiar. Saya yakin negara bisa menjamin keselamatan kami. Apakah ada kelemahan ibu saya yang diketahui oleh laki-laki itu sehingga ibu saya seperti kerbau dicocok hidungnya?

Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes