Jadilah Seperti Mereka

Banyak orang terkadang membuat kita terluka. Membuat kita jatuh dan tak berdaya. Saya sering berinteraksi dengan benda-benda di dunia maya dan saya berharap ada manusia yang meniru sikap mereka.
Sumber gambar dari sini.


Jadilah seperti google yang tidak pernah menertawakan apa pun kata kunci yang kamu gunakan untuk bertanya dengannya. Apa pun kata kuncinya dia berusaha untuk mencarikan jawaban yang paling mendekati. Bahkan ketika salah ketik pun dia berusaha memberikan kata kunci yang mendekati kata kunci kita dalam versi yang benar.

Sayangnya kita manusia yang tidak diprogram seperti google yang tidak memiliki perasaan. Sehingga kadang kita bisa merendahkan orang yang bertanya sesuatu dengan cara yang terdengar bodoh atau yang dipertanyakan adalah sesuatu yang sederhana dan kita pikir orang yang tidak tahu pasti lebih rendah dari kita. Padahal apa pun pertanyaan yang diajukan seseorang  yang dia butuhkan adalah jawaban bukan komentar terhadap pertanyaan yang dia ajukan.

Google yang rendah hati terhadap semua pertanyaan dan menjawab tanpa komentar apa-apa.

Jadilah seperti facebook yang memiliki tombol ‘suka’ sehingga ketika kamu tidak suka dengan sesuatu kamu tidak perlu menunjukkannya dengan memberikan jempol ke bawah tapi cukup meninggalkannya begitu saja.

Sumber gambar dari sini.


Kita harus mengakui apabila kita tidak menyukai seseuatu atau seseorang, kita berusaha menunjukkannya kepada banyak orang terutama kepada orang tersebut. Tahukah kita sebenarnya itu tidak hanya membuat orang yang kita benci tersebut ikut membenci kita (ini adalah kemungkinan terburuk) tapi kita juga menyiksa diri kita sendiri.

Kenapa kita tidak bisa melangkahkan kaki untuk meninggalkan orang tersebut yang kita benci tanpa mengatakan apa-apa? Biarkan kebencian itu hanya kita yang tahu dan jauhi orang tersebut agar kebencian itu tidak mengganggu diri kita sendiri. Siapa tahu suatu hari saat kita bertemu dengannya lagi kebencian itu telah hilang dan kita bisa menyukai dia.

Facebook saja memiliki tombol positif di dalam dirinya. Mengapa kita tidak?

Jadilah seperti twitter yang memiliki kesederhaan berpikir. Lihat berapa karakter yang diizinkan twitter untuk muncul dalam satu kicauan? Hanya 140 karakter termasuk spasi dan orang yang kamu sebutkan dalam kicauan tersebut.

Twitter tahu batas kemampuannya. Dia tidak memaksakan diri untuk melebihkan karakter dalam satu kicauan. Jadi ketika manusia telah berada di ujung batas kemampuannya dan kemungkinan akan melewatinya, lihatlah, akan muncul berapa ‘karakter’ minus di dalam kotak kicauan itu. Seperti itulah. Ketahuilah batas kemampuan kita dan jangan sampai kita melampaui batas yang disediakan untuk kita.

Mereka adalah benda mati yang kita tahu selalu ada di dalam kehidupan maya kita. Hampir setiap hari kita menyentuh satu di antaranya. Kenapa kita tidak meniru sikap baik dari mereka. Marilah kita berusaha untuk bercermin pada diri kita.

Apa yang kurang tambahkanlah agar menjadi cukup. Apa yang lebih bagikanlah agar menjadi amal.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes