Langsung ke konten utama

SIAPA YANG BEKERJA LEBIH, AKAN MENDAPATKAN LEBIH –[BAGIAN DUA (2)]–

Sumber gambar: di sini.

Sambungan dari sini.

Dulu, sebelum saya bekerja di sini sebagai penyiar. Meskipun penyiar yang paling banyak melakukan kesalahan dan memulai semuanya dari ketidaktahuan sama sekali. Saya hanyalah seorang kuli di sebuah warung kelontong. Itu bahkan sebelum saya menjadi mahasiswi di Universitas Tanjungpura. Beberapa tahun di belakang saya bekerja tanpa henti di warung tersebut. Gaji yang sangat kecil. Tahun 2004-2005 saya hanya digaji 100ribu. Gaji terakhir adalah 250rb. Itu pun karena majikan saya ingin ikut menyumbang untuk uang pendaftaran kuliah saya.


Saya bekerja di sana sebenarnya bukan untuk mencari uang karena ternyata hasil saya menjual kue bolu jauh lebih banyak daripada jaga warung dari pagi hingga sore. Saya ingin belajar. Ilmu yang paling saya ingat hingga sekarang adalah kejujuran dalam berdagang. Majikan saya mengatakan dalam berdagang hal pertama yang harus dimiliki seseorang jujur.

Waktu saya mendapat gaji yang sedemikian kecil dengan posisi yang sangat rendah di mata orang lain saya hanya bisa bersyukur karena ilmu kejujuran tersebut tidak akan saya dapatkan di tempat yang lain. saya memang dipandang rendah karena mau bekerja di warung kelontong tersebut. menjadi kuli rendahan. Saya tidak mengeluh dan tidak merasa rendah. Saya juga tidak pernah meminta kenaikan gaji meskipun terkadang saya harus mengerjakan lebih setiap harinya.

Saya yakin, ketika kita bekerja lebih, rezeki yang kita dapatkan pasti lebih. Sampai sekarang saya masih ingat dengan jelas betapa banyaknya uang yang harus majikan saya keluarkan untuk membelikan berbagai macam jajanan. Bahkan melebihi gaji bulanan saya. Tapi dia tidak pernah mengomel dan dengan senang hati membekali saya uang atau makanan ketika pulang. Tuh kan… saya benar. Ibu saya benar.

Ini adalah hal yang saya pelajari dari ibu saya. Ibu saya selalu mengingatkan ketika kita disuruh oleh atasan tempat kita bekerja, selama kita bisa, kerjakanlah. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan kemudian. Bisa jadi balasannya bukan berbentuk uang. Bisa jadi pula balasannya bukan melalui atasan kita. Ingat, Tuhan selalu melihat apa yang kita kerjakan.


Bersambung ke sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan