SAYA ANTI MENULIS [BAGIAN TIGA (3)] AKHIR


Sumber gambar di sini.

Sambungan dari sini.

1.      Menulis itu susah

Apa bedanya menulis dengan mengendarai sepeda? Apa bedanya menulis dengan belajar berjalan saat kita masih berusia belasan bulan? Apa bedanya menulis dengan mengenakan pakaian?

Apakah semua kegiatan selain menulis yang saya sebutkan di atas bisa kita lakukan dalam waktu lima menit? Tidak ada bukan? Semuanya butuh proses. Lantas apakah prosesnya berbeda dengan menulis?

Menurut saya semuanya sama.

Butuh proses yang di dalamnya ada latihan dan waktu. Kenapa kita bisa menghadapi lutut terluka ketika belajar naik sepeda lalu gagal meneruskan tulisan ketika ada yang harus kita coret?

Apakah menulis itu susah? Apakah belajar berjalan ketika kita bahkan belum mengerti semua kata yang diucapkan ibu kita mudah? Kenapa kita mampu bangkit dan mencoba untuk melangkah lagi saat kita sudah jatuh berkali-kali? Apakah susah meneruskan latihan menulis ketika kita harus mengganti judul tulisan tersebut?

Saya anti menulis jika menulis itu adalah pekerjaan yang susah. Tidak ada yang susah di dunia ini jika kita mau belajar, latihan, dan melewati waktu di dalam proses tersebut.

2.      Menulis itu pekerjaannya sastrawan

Ketika duduk di bangku kuliah, saya menulis dan mendapat tanggapan yang mengejutkan.

“Hani kan sastrawati, makanya bisa menulis.”

Pendapat macam apa itu? Lalu bagaimana dengan orang yang menulis artikel bukan sastra? Apakah memang orang yang menyastra baru boleh menulis?

Saya anti menulis jika menulis itu pekerjaannya sastrawan atau sastrawati karena sekarang tulisan ini bukanlah sastra. Hanya curhatan seorang penulis di diaryblognya.

Jadi? Apakah hanya saya yang anti menulis? Bagaimana dengan kamu setelah membaca ini?
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes