SAYA ANTI MENULIS [BAGIAN DUA (2)]

Sumber gambar di sini.

Sambungan dari sini.

1.      Menulis hanya dilakukan oleh orang yang pintar


Ini juga pendapat yang dengan gampang ditemukan dari mulut orang yang anti menulis. Mereka memberikan alasan yang klasik sekali.


“Hanya orang pintar yang bisa menulis.”

Lantas orang yang pas-pasan seperti saya tidak bisa menulis? Kenapa waktu duduk di bangku SD kita disuruh membuat kalimat di pelajaran Bahasa Indonesia kita bisa? Anak SD saja bisa kenapa kita bisa kalah? Apakah memang ada aturan dalam menulis? Menulis memang ada aturannya jika yang ditulis adalah karya ilmiah atau buku-buku tertentu.

Bagaimana dengan blog pribadi? Apakah ada orang yang berhak memberikan aturan? Semua orang boleh memberikan saran untuk memperbaiki tulisan kita tapi bukan berarti tulisan kita salah dan saran itu yang benar.
Apalagi untuk sastra. Berupa puisi, cerpen, cerpan, atau novel. Itu fiksi. Bebaskanlah dirimu untuk menuliskan apa yang ingin kamu tuliskan. Karena jika kamu terus memikirkan masalah: “Apakah tulisan saya benar? Apakah tulisan saya bagus?” kamu tidak akan pernah menulis.

Saya anti menulis jika hanya orang pintar yang bisa menulis. Ini bukan masalah seberapa pintar kamu untuk menghasilkan sebuah tulisan? Tapi seberapa besar keinginan kamu untuk menuliskan apa yang kamu tahu.

2.     Menulis adalah pekerjaan sia-sia

Awal latihan menulis saya belasan tahun yang lalu saya mengalami kecaman berkali-kali dalam keluarga. Terutama kakek saya. Karena waktu itu saya menulis di mana saja, kapan saja, bersama siapa saja, dan ketika melakukan apa saja.

Apabila di rumah, dulu saya memang dibesarkan di rumah nenek dan kakek saya sehingga merekalah orang yang pertama kali melihat saya latihan, saya biasanya menulis sambil menonton televisi. Latihan yang mungkin menurut sebagian orang aneh. Bagaimana mungkin coba saya mencuri waktu pada saat penayangan iklan untuk menulis.

Sebenarnya saya tidak hanya mencuri waktu penayangan iklan untuk menulis tapi juga untuk membaca. Bahkan saya kadang tidak begitu memperhatikan apa yang ditayangkan di televisi. Saya hanya harus mendengar sesuatu untuk menulis. Saya tidak bisa menulis dalam keheningan.

Ternyata kakek saya terganggu dengan cara saya menulis. Dia juga tidak suka saya menulis sambil menonton televisi. Saya sama sekali tidak belajar untuk sekolah saya. Buat saya naik kelas sudah bagus, kenapa harus ranking?

Kalimat yang akan kakek saya keluarkan adalah: “Memangnya apa yang kamu lihat di televisi dan yang kamu tuliskan di kertas akan keluar dalam ulangan?”

Saya hanya diam waktu itu. Tapi saya sudah membuktikan bahwa saya menghasilkan sesuatu dengan kegiatan menulis saya. Saya anti menulis jika memang ini adalah kegiatan sia-sia. Sekarang saya sadar, latihan saya bertahun-tahun tidak pernah sia-sia. Siapa sangka gadis dari desa yang berasal dari keluarga pas-pasan dan pernah menjadi kuli rendahan di warung kelontong menerbitkan buku? Memiliki blog sendiri?

Itu adalah bukti menulis itu bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Saya juga mendapatkan teman-teman di luar sana yang mau membaca tulisan saya.

Bersambung ke sini.

Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes