SAAT MATAHARI TERGELINCIR [BAGIAN TUJUH (7)]



Sumber gambar dari sini.
 Sambungan dari sini.
Pandanganku mulanya gelap. Sekarang berubah menjadi terang. Dimana ini? Surga atau neraka? Barzah? Aku mengerjapkan kedua mataku. Putih semuanya… kulihat sosok yang juga putih. Mereka tersenyum. Pasti mereka malaikat yang dikirim untuk menanyaiku. Aku harus jawab apa? Mereka mengerti bahasa Indonesia atau tidak? Bahasa Arabku masih terbata-bata. Bagaimana aku mengungkapkan kekesalanku pada semua kejadian ini? Oh iya… aku harus minta maaf karena mendahului tugas mereka sebagai pencabut nyawa. Aku sudah lancang mencabutnya sendiri.

“Sebentar lagi kesadarannya akan pulih kembali. Sekarang pengaruh anti nyamuknya masih ada sedikit karena mungkin cairan itu telah tertelan dalam dosis yang tinggi.”


Suara siapa itu? Kenapa dia mengatakan soal anti nyamuk yang kutelan? Memangnya dia dokter? Kalau ini di rumah sakit mungkin ia benar-benar dokter. Sayangnya ini alam barzah, mana ada dokter di sini?

“Keluarga pasien boleh berada dalam ruangan ini. Tapi jangan mengganggu pasien ya? Jangan terlalu ramai. Pasien butuh istirahat, terutama psikisnya. Usahakan untuk menenangkannya. Apalagi ia masih labil dan mengandung. Pasti ia butuh lebih dari sekedar nasihat.”

“Mengandung?”

Itu suara papa! Kenapa ini? Aku ada dimana? Semuanya masih samar dan kabur. Aku tak mampu menggerakkan tubuhku sendiri.

“Tiga minggu usianya.”

Beberapa langkah terdengar menjauh. Aku berusaha mengumpulkan ingatanku beberapa jam terakhir. Emak meninggalkan sarapan di meja belajarku. Aku telah merencanakan semuanya saat itu. Sebotol anti nyamuk cair segera kutetidak setelah menghabiskan sarapan itu. Ingat pesan dokter, minum obat setelah makan. Beberapa lama berselang aku muntah dan akhirnya semuanya menjadi gelap. Sekarang aku berada di sini.

Aku masih mencoba menyadarkan diriku karena kepalaku terasa berat sekali. Wajah yang pertama kulihat adalah papa. Mama menangis dalam pelukannya. Emak hanya duduk di kursi dekat ranjangku. Ternyata ini benar-benar di rumah sakit. Ali berdiri di ujung ranjang. Matanya menusuk sampai ke tulang-tulangku. Apa maksudmu hadir dalam kamar ini. Untuk menembakku dengan berbagai pertanyaan yang semuanya akan menyudutkanku?

“Emak?”

Wanita itu segera memegangi tanganku. Ia menciumnya berkali-kali. Aku melihat air mata membanjir di pipinya. Tapi aku tahu itu tangis bahagia.

“Alhamdullilah Ma…Syawal sudah sadar.”

Papa menghapus air mata mama yang terus menetes di pipinya. Tangan kirinya memegang selembar tissue.

“Jangan tinggalkan kami lagi ya?” emak mengeluarkan isi hatinya.

Suaranya agak bergetar. Hatiku tertoreh duri mendengar ucapan itu. Seharusnya aku memikirkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Sudah bunuh diri tapi tak mati, belum lagi sebulan yang lalu aku diperkosa. Sekarang aku masih menyusahkan banyak orang dengan minum anti nyamuk.

“Ali ingin bicara dengan Syawal, berdua.”

Emak segera keluar mengikuti langkah kedua orang tuaku.

Sekarang hanya ada aku dan Ali. Tolong jangan katakan apa pun Ali. Hatiku tersiksa dengan cinta ini. Sakit…karena aku tahu aku tak pantas untukmu. Apalagi dengan janin dalam kandunganku. Tiga minggu? Jadi benih Baron benar-benar menetas dalam rahimku?

“Kurang apalagi cobaan dalam cinta kita Syawal? Semuanya sudah sangat berat tapi aku bisa menghadapinya, kenapa kamu tidak berani menghadapi kenyataan itu? Tak ada yang perlu disesali, semuanya sudah terjadi dan aku masih tetap mencintaimu. Izinkan aku menjagamu seumur hidupku Syawal. Setelah kamu melahirkan kita akan menikah. Aku janji akan menyayangi anak itu seperti anakku sendiri.”

“Aku sudah hancur, aku tak ingin apa-apa lagi. Satu hal yang harus kamu ingat Li. Kita tidak mungkin bersatu, jangan paksa aku lagi. Semakin kamu tekan aku seperti ini, semakin aku ingin bunuh diri.”

“Jangan bunuh dirimu! Aku akan lakukan apa pun yang kamu minta asalkan kamu tidak bunuh diri.”

“Benar aku boleh minta apa saja?”

“Tapi kamu harus benar-benar tidak mencoba untuk bunuh diri lagi.”

“Jangan muncul lagi dalam kehidupanku.”

“Baik, kalau itu maumu. Kamu harus ingat aku akan tetap mencintaimu apa pun yang terjadi.”

“Terserah.”

Ali menatapku tajam, namun pandangannya ternyata basah. Padahal ia laki-laki yang sangat kuat. Tapi pada akhirnya ia menangis menghadapi aku. Perempuan yang telah mengecewakannya. Maafkan aku, Li. Aku bukannya tak mencintaimu. Aku sangat menginginkan pernikahan itu terwujud tapi aku tak pantas. Aku hanya pungguk sedangkan dirimu adalah bulan purnama yang ditemani bintang-gemintang di langit, terlalu indah untuk dimiliki.


Bersambung ke sini.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes