SAAT MATAHARI TERGELINCIR [BAGIAN TIGA (3)]

Sumber gambar di sini.
Sambungan dari sini.

Aku memegangi tangan mungil milik Aninta yang erat sekali memegang tanganku. Wajahnya sangat cerah pagi ini. Rambutnya yang panjang dikuncir rapi. Pasti Utari yang menguncirnya. Sejak kecil mereka berdua memang sangat dekat. Apalagi Aninta selalu patuh pada ucapan Utari.


Beberapa anak laki-laki menatapku dengan seksama. Dari ujung kaki hingga ujung jilbab putihku yang sedada. Aku jadi heran dengan sikap mereka. Aninta juga memandang mereka. Tiba-tiba ia melepaskan genggaman tanganku. Langkahnya mendekati anak-anak yang kelihatannya seusia dengan Aninta. Aku mengikuti langkahnya yang kecil.

“Kenalin, ini mamaku.”

“MA – Ma?”

Pandangan anak-anak itu terlihat takut padaku. Seperti melihat gurunya yang paling galak saja, padahal aku tersenyum pada mereka bukan menyeringai menyeramkan.

“Tidak mungkin anak panti seperti kamu punya mama, apalagi mama cantik begini, pakai jilbab lagi. Kamu kan anak ha…”

“Benar kok, saya mamanya Aninta. Saya juga anak panti, makanya Aninta tinggal di panti.”

Penjelasan yang cukup sederhana untuk meyakinkan anak-anak seusia mereka. Mudah-mudahan ini berhasil. Setidaknya untuk beberapa tahun sampai Aninta kuat menghadapi kenyataan yang sebenarnya.

******

“Sudah malam Wal, mendingan kamu minta jemput saja.”

Bu Halimah menahanku yang sudah melangkah meninggalkan ruangan istirahat. Salahku sendiri karena terlalu lelap tidur sampai aku lupa kalau ini bukan kamarku. Hari ini memang melelahkan. Seharian aku pergi ke butik milik Tante Tiara. Persiapan untuk pernikahan yang tinggal menghitung hari. Mama terlalu ingin semuanya sempurna. Yach… Bisa dimengerti karena memang aku anak satu-satunya milik kedua orang tuaku. Berbeda dengan papa yang tak begitu ambil pusing dengan gaun atau semacamnya. Baginya pernikahan bukan pada gaun atau pesta. Buat papa yang terpenting adalah aku bahagia. Apakah aku benar-benar bahagia dengan pernikahan ini? Aku hanya bisa bersyukur bisa mendapatkan pendamping karena selama ini aku tak punya teman dekat yang dapat memahami aku, apalagi teman laki-laki. Papa selalu melarangku. Alhasil teman-temanku hanya anak-anak panti yang usianya rata-rata masih dibawah 15 tahun karena yang seusia dengannya sudah punya hidupnya sendiri.

“Tidak usah, Pak Ahmad pasti sudah pulang Bu.”

“Tapi ini sudah terlalu larut. Jalanan sudah sangat sepi.”

Kata-kata itu terngiang lagi di telingaku. Tapi saat aku mengingatnya semuanya sudah terlambat. Semuanya sudah terjadi. Seharusnya aku tidak pulang sendirian malam itu. Padahal lebih baik aku menginap saja. Kalau aku bisa memutar semuanya.. Baron tidak akan menghadangku dan mengiamatkan keperempuananku. Ia menggagahiku. Teriakanku yang hampir merontokkan tenggorokanku sendiri tak menghalangi bejatnya laki-laki itu. Naasnya lagi tak ada satu orang pun yang mendengarku. Allah pun tak menyelamatkanku. Kemana Engkau zat yang paling sempurna?

“Sudah Ma…”

Suara papa menghibur perempuan yang mengisak di sampingku. Aku berbaring di tempat tidur dengan wajah masai. Hatiku berkeping tanpa sisa. Hari pernikahan yang akan menjadi hari paling bahagia kini ingin aku tepis saja.

“Sudah bagaimana Pa, anak kita bagaimana nantinya?”

“Apanya yang bagaimana?”

“Pernikahannya.”

“Kita rundingkan lagi dengan keluarga Ali.”

“Batalkan Pa…”

Mama menatapku dengan sepasang matanya yang merah dan berair. Hidungnya juga berair, berkali-kali ia mengeringkannya dengan tissue di tangan kirinya. Papa tak menampakkan ekspresi yang jelas. Ia hanya menarik napas yang sangat panjang. Napas terpanjang yang pernah kulihat selama hidupku. Beban terberat untuk seorang ayah yang hanya memiliki satu anak perempuan.

“Syawal tak pantas menikah dengan siapa pun…”

“Sayang… Jangan bicara seperti itu.”

“Apa pun hasilnya nanti kita harus berunding dengan keluarga Ali. Sekarang tidur, kamu harus siap-siap untuk menghadapi pengadilan nanti.”

Papa menarik mama pelan. Perempuan yang telah berjuang bertaruh nyawa untuk menghadirkanku ke bumi mengalah pada suaminya. Beringsut meninggalkanku sendirian di kamarku. Saat sepi begini aku mengutuk semuanya. Aku benci pada diriku sendiri kini. Aku telah kotor.

Bersambung ke sini.

Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes