SAAT MATAHARI TERGELINCIR [BAGIAN SATU (1)]

Gambar pinjam di sini.


26 Juni akan menjadi tanggal yang paling bersejarah dalam hidupku. Kamu mau tahu kenapa? Allah telah mengirimkan seorang malaikat dengan sepasang sayap putihnya untuk menjadi penjagaku seumur hidup. Orang tuaku dan orang tua Ali sudah menetapkan tanggal 26 Juni sebagai tanggal yang tepat untuk mempersuntingku. Bunga rimba yang berkubang dalam panti asuhan anak yatim piatu. Tak pernah sekalipun terbersit dalam hatiku Ali-lah yang akan mendampingi sisa usiaku. Semuanya terjadi begitu cepat. Baru kemarin rasanya aku memakai toga. Gelar sarjana telah kupegang. Tak ada yang lebih menyenangkan dari melihat wajah kedua orang tuaku tersenyum menatapku yang telah mendapat prestasi terbaik di fakultasku.

Masih beberapa hari menuju tanggal bahagia itu. Aku masih menyibukkan diriku di panti asuhan. Kamu pasti tak tahu rasanya berada dalam sisi anak-anak yang membutuhkan uluran tangan kita dari lensa sedekat ini. Mereka bisa tertawa, menangis, dan marah seperti manusia normal lainnya. Namun ada yang kosong dalam hati mereka. Kering kerontang tanpa kasih dari keluarga yang pada umumnya. Sebagai gantinya, aku yang memiliki semua hal yang tak mereka miliki ingin sedikit berbagi. Walaupun aku tak punya saudara kandung seorang pun. Tapi bagiku anak-anak yatim itu lebih dari saudara.

Sudah sangat sering kita dengar bukan, Allah berfirman pada kita untuk menyayangi anak-anak yatim piatu. Anak-anak yang berharap belas kasih dari kita. Klise memang… tapi keluargaku sudah menanamkan hal baik seperti ini sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak berusia 7 tahun aku sudah terbiasa bermain bersama anak-anak panti asuhan ini.

“Kak Syawal…”

Suara kecil yang sangat kukenal. Aninta memang anak yang paling dekat denganku. Bukan karena dia sangat cantik dan pintar. Tapi matanya yang kosong membuatku iba dan ingin menjadi bagian dari air matanya yang menetes di bantal sebelum ia terlelap ke alam mimpi. Tangannya yang mungil menarik tanganku. Usianya yang baru menginjak 6 tahun tak menyurutkan rasa keingintahuannya. Matanya berair lagi. Aku berlutut di depan gadis itu agar aku bisa menatap matanya. Mata coklat yang sangat jernih. Sayangnya mata indah itu tak bercahaya. Sejak ia ditemukan di depan pintu panti mata itu sudah kehilangan cahayanya.


Bersambung ke sini.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes