SAAT MATAHARI TERGELINCIR [BAGIAN LIMA (5)]

Sumber gambar di sini.

Sambungan dari sini.

Aku melangkah menuju mobil papa sambil dipegangi Emak. Aku hampir pingsan mendengar putusan hakim. Baron tak bersalah! Tak bersalah dari Hongkong? Kenapa harus mencari saksi lagi? Apa ia tak melihat wajahku? Apa aku ada tampang sebagai seorang pembohong? Dasar manusia bodoh! Jangan katakana padaku kalau kalian telah disuap dengan sejumlah uang. Harga diri kalian murah sekali bisa dibeli dengan harta. Hati nurani kaian pun telah tergadai. Otak kalian tersumbat sampai kalian melupakan perasaanku sebagai seorang perempuan.


Ali tak mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Keluarganya tak ada yang menghadiri sidang hari ini. Yach… pastinya mereka malu menghadapi kenyataan calon menantu mereka telah diperkosa sebelum sempat menjadi menantu. Walaupun aku harus sedikit bersyukur aku masih belum menjadi bagian dalam kehidupan Ali. Aku tak ingin menyusahkan terlalu banyak orang lagi. Sudah cukup papa, mama, dan emak yang meratapi tangisanku. Jangan ada orang berikutnya.

Ali duduk di sebelahku. Dua keluarga kecil berkumpul di ruang tamu di rumah kami. Emak menyiapkan minuman dengan nampan yang akan ia bawa kembali ke dapur setelah ia menyajikannya. Papa bertatapan sesaat dengan emak. Entah apa artinya. Aku tak tahu.

“Lastri…kamu tetap saja di sini bersama kami. Ini masalah keluarga kita… Jangan kemana-mana.”

Emak menatapku dan mama bergantian.

“Di sini saja Las, temani kami.”

Emak diberi isyarat untuk duduk di sebelah mama, untuk pertama kalinya aku merasa wanita itu benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini. Bukan hanya sebagai pembantu.

Kedua orang tua kami duduk berhadapan dengan wajah tegang. Emak pasti hanya duduk dan diam di antara kami. Namun kehadirannya membuatku merasa lebih tegar menghadapi semua ini. Membatalkan pernikahan ini tanpa air mata. Aku sejujurnya bahagia apabila bisa menjadi istri Ali. Untukku dia sosok yang sangat indah dengan semua kekurangan dan kelebihannya. Aku yakin dia mampu membimbingku jadi istri yang berbakti. Kini semua itu tak lebih akan menjadi angan dan mimpi di siang bolong.

“Bagaimana Li? Apa pun keputusan yang ingin kamu ambil kami akan menurutinya. Kami yakin keputusanmu adalah yang terbaik untuk kalian berdua. Jangan sampai menyakiti satu pihak pun.”
Papa Ali memecah ketegangan itu sampai semuanya terlihat melunak. Aku tak ingin Ali yang mengambil keputusan ini. Aku, hanya aku yang tahu  keputusan terbaik untuk kami berdua. Mungkin akan menyakitkan tapi inilah yang terbaik. Lupakan aku Li…aku bukan perempuan yang pantas untuk siapa pun apalagi untukmu.

Air mata menggantung begitu saja di kelopak mataku. Jangan sampai berderai. Ali akan kasihan padaku dan tetap melanjutkan pernikahan ini. Aku tak mau Ali memiliki istri seperti aku. Masih banyak perempuan yang akan merelakan hidupnya untuk Ali. Tapi aku…tak punya hidup lagi. Dunia ini bukan lagi milikku. Jangan turuti hatimu Ali. Cinta tak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga.

“Syawal ingin membatalkan pernikahan ini…”

Ali langsung menodongkan mata elangnya ke arahku. Tolong jangan tatap aku seperti itu. Aku tak sanggup melawan tatapanmu Ali…

“Ali ingin melanjutkan pernikahan ini tapi ditunda beberapa bulan lagi.”

“Syawal…?” papa memintaku menjawab.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku tak mau.

“Syawal tak mau menjadi istri siapa pun.”

Tangisanku akhirnya pecah juga. Jatuh berderai…

Emak spontan beralih posisi. Ia memelukku erat sekali. Belaiannya sedikit menguatkanku.

“Ali?” papa Ali meminta anaknya untuk mengucapkan kata-kata yang lebih jelas.

“Ali bisa menerima Syawal apa adanya. Ali tidak mempermasalahkan sesuatu yang telah lewat. Buat Ali ini adalah ujian cinta Ali dari Allah. Allah ingin tahu sedalam apa cinta Ali. Sekarang Ali ingin membuktikan pada Allah bahwa cobaan apa pun tak akan mempan. Ali akan tetap mencintai Syawal apa adanya.”

Romantis untuk didengar. Tapi Ali semuanya sudah berbeda. Aku tak pantas untukmu. Aku tak bisa menerima cintamu yang besar. Berat untuk dipikul. Aku tak kuat lagi. Aku pun mencintaimu Ali. Karena mencintaimu aku tak mau menjadi perusak dalam kehidupanmu yang sudah indah dan sempurna. Perempuan yang sempurnalah yang harus menjadi pendampingmu pula. Kalau aku yang menjadi perempuan itu betapa beruntungnya aku. Sayangnya sekarang semuanya sudah berbeda Li.

“Cinta tak cukup Li…kesucian juga perlu, Syawal sudah kotor.”

Aku membalas ucapannya tanpa menatap matanya. Aku menyembunyikan tangisanku dalam pelukan emak.

“Masih ada beberapa bulan Syawal. Kamu bisa menerima atau menolaknya setelah itu. Sekarang kita ikuti saja kemauan Ali.”

Aku tak menyahut mendengar ucapan papa Ali. Ini kemauan mereka, bukan kemauanku. Aku tak sanggup lagi menghadapinya. Aku berlari menaiki tangga menuju kamarku. Emak mengikutiku dari belakang.

Bersambung ke sini.

Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes