SAAT MATAHARI TERGELINCIR [BAGIAN ENAM (6)]



Sumber gambar di sini.

Sambungan dari sini.

Pagi ini mentari belum menampakkan wajahnya. Mega kelabu menutupi kelopak matanya. Aku duduk di tepi jendela dengan air mata menggenang. Aku rindu dengan hari-hariku yang biasa. Seharusnya hari Minggu ini aku berkunjung ke panti lebih awal dari biasanya. Aku selalu sarapan bersama anak-anak panti di hari Minggu, karena hari Minggu semua anak ada di panti. Kini aku malu untuk berada di tengah mereka. Mereka semua pasti jijik denganku.


Tok! Tok! Tok!

Ketukan asing menggema di pintu. Aku beranjak dari tepi jendela, membukakan pintu pada gadis kecil yang sangat kukenal. Aninta! Sudah berapa lama aku tak melihat wajahnya lagi. Lihat matanya yang jernih itu! Ia menangis?

“Kenapa menangis?”

“Rindu sama Mama.”

Aku memeluknya. Aninta…apa kamu masih menganggap diriku seperti dulu. Syawal yang sempurna? Yang selalu menjadi tempatmu bermanja-manja.

Aku membawanya ke ranjang. Duduk di tepiannya sambil berpelukan hangat. Aku membelai rambutnya yang panjang tergerai.

“Mama Syawal kenapa tidak pernah ke panti lagi. Sudah sebulan tahu! Kami semua kangen sama Mama.”

“Mama sakit, nanti kalau sudah sembuh Mama pasti datang. Ninta ke sini sama siapa?”

“Sama Papanya Mama.”

“Kalau Aninta nanti tidak akan pernah ketemu Mama lagi gimana?”

Aku masih menyimpan rencana untuk mengakhiri hidupku, apa pun caranya aku harus mati. Aku lelah dengan kenyataan. Aku ingin tenang. Meninggalkan semuanya. Maafkan aku yang tak mendengar nasihat dari siapa pun, bukan apa-apa, aku terlalu tersiksa. Apalagi ternyata laki-laki bejat itu tak tersentuh oleh hukum dunia. Aku benci!

“Aninta tidak mau Mama pergi, apalagi kalau sampai tidak ketemu lagi. Mama tidak boleh meninggalkan anaknya. Jangan kayak Mama Tisya dong! Aninta ingin bersama Mama Syawal.”

“Iya, Mama kan cuma nanya. Itupun hanya kalau…”

Dahinya kusentuh dengan bibirku. Mendaratkan ciuman yang terhangat untuknya. Mungkin ini adalah ciuman terakhir dariku.

Bersambung ke sini
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes