SAAT MATAHARI TERGELINCIR [BAGIAN DUA (2)]



Sambungan dari sini.

Waktu itu ia masih bayi. Hanya ada selembar surat di sisinya.

Maaf  aku harus meninggalkan Aninta di sini. Aku tak punya pilihan. Aku janji suatu hari aku akan kembali untuk menjemputnya. Sayangi dia seperti anak-anak yang lain karena aku sangat menyayanginya…
                                                                   Tisya


Kertas itu terlihat agak kusam karena ada bekas air yang telah mengering. Mungkin itu tetesan air mata Tisya. Sampai sekarang surat itu masih disimpan ayahku. Sebagai bukti bahwa Aninta tidak sendirian di bumi ini. Ia masih memiliki seorang ibu.

Mata itu semakin basah. Sudah menjadi hal yang sangat biasa Aninta pulang dari sekolah menangis begini. Aku hanya tak tahu sebabnya. Aninta tak pernah mengatakan hal yang sebenarnya. Aku hanya bisa menghapus lelehan itu agar tak semakin deras.

“Ada apa Ninta?”

“Ninta rindu sama Kak Syawal…”

Bukan… Pasti bukan itu alasan ia menangis seperti ini. Jemariku mengusap pipinya yang tembem. Anak semanis ini harus menanggung penderitaan yang sangat mendalam. Kasihan… Tapi aku tahu setiap orang punya alasan tertentu untuk mengambil keputusan. Entahlah…aku bingung menjabarkan mana yang benar. Aninta masih menangis. Pelukannya semakin erat.

“Coba ceritakan…Ninta pasti akan merasa lebih baik kalau semuanya ditumpahin. Kak Syawal janji tidak akan bilang siapa-siapa.”

Aninta melepas pelukannya dan menatap mataku lekat-lekat. Ia seakan tak percaya tapi hati kecilnya pasti tahu aku tak akan berbohong padanya. Bibirnya mengecup pipiku hangat. Ia mengajakku meninggalkan ruang baca itu menuju bangku taman. Kami duduk di bawah pohon akasia yang mulai berbunga. Seragamnya masih ia kenakan. Aku sangat senang melihatnya dengan rok merah dan baju putih itu. Seingatku itu seragam bekas milik Utari. Masih layak pakai. Nanti aku akan membelikannya seragam yang baru apabila ia naik kelas. Pasti seragam itu tak akan muat lagi tahun depan.

“Ninta ingin tanya satu hal sama Kak Syawal…”

Suaranya masih ragu. Matanya terlihat ingin menumpahkan seluruh perasaannya padaku. Aku menggerakkan tangan kananku, mengusap rambutnya. Memberikan kekuatan yang lebih besar agar ia mau bicara.

“Apa pun itu Kak Syawal akan berusaha buat jawab…”

“Mama Ninta siapa?”

Mata bening itu berair lagi? Kedewasaan yang ia miliki semakin melukai perasaanku sendiri. Seharusnya ia tidak memikirkan masalah orang tuanya di usia sebelia ini. Aninta… beratnya hidupmu..

“Namanya Tisya…”

“Kenapa Aninta ditinggal Mama Tisya? Mama Tisya tidak sayang lagi sama Ninta ya?”

“Sayang kok…”

“Ninta capek tiap hari Ninta diejek teman Ninta… Katanya Ninta anak haram, tidak punya bapak, tidak punya ibu. Ninta tidak mau sekolah lagi, Ninta malu…”

Aku memeluknya erat-erat. Apa sudah habis darah dilukamu Ninta? Apa luka itu sudah kering hingga akhirnya pertanyaan itu menyembulkan kepalanya begitu saja dari bibirmu? Maafkan Kakak yang tak pernah memikirkan perasaanmu sedalam itu. Kakak pikir keingintahuanmu masih dangkal mengenai keluarga yang seharusnya kamu miliki.

“Ninta bukan anak haram. Kalau Ninta ingin punya mama, Ninta punya Kakak, mulai besok Ninta panggil Kak Syawal Mama ya?”

Aku menatap matanya lebih dalam lagi. Menanamkan kepercayaan diri yang teramat besar untuk bekalnya esok hari.

“Ma-ma? Boleh?”

Aninta menghapus air mataku yang masih membanjir. Mataku yang merah tak menghalangi senyumanku.

“Boleh.”

“Berarti Ninta bukan anak haram lagi dong?”

“Ninta tidak pernah menjadi anak haram, Ninta tidak boleh terpengaruh sama omongan teman-teman Ninta. Mereka iri aja sama Ninta. Ninta cantik, pinter, dan baik hati. Ninta jangan sedih lagi…”

“Ninta senang punya Mama Syawal. Kalau gitu besok Mama Syawal harus antar anaknya sekolah. Ninta mau pamerin Mama Syawal sama teman-teman Ninta. Biar mereka tahu rasa…Tiap hari ngejekin Ninta. Katanya Ninta dibuang di tong sampah sama Mama… Siapa tadi nama Mama yang udah ninggalin Ninta?”

“Mama Tisya.”
Ekspresi wajahnya yang lucu membuatku pinggangku serasa digelitik. Apa pun yang ingin ia ketahui dan apa pun yang ia rasakan ia tetap seorang anak kecil yang tak begitu paham dengan kerasnya kehidupan. Dan sekarang ia sudah ceria lagi. Aku senang bisa berbagi lagi dengannya.
“Ninta bukan dibuang di tong sampah sayang…”
“Terus dimana? Di gerobak sampah?”
Aku menggelengkan kepalaku pelan. Sekarang nada suaranya bersemangat ingin mengetahui masa bayinya dan mendung di wajahnya telah berlalu.
“Di depan pintu panti…”
Suaraku agak tercekat di tenggorokan, aku tak enak hati mengatakan kebenaran yang selama ini masih tersimpan rapat di benakku. Belum pantas saja rasanya menyatakan rahasia pada anak seusia Aninta. Ayah sebenarnya sudah menyiapkan pengumuman jati diri Aninta suatu hari nati kalau ia sudah dewasa. Setidaknya bukan pada usia 6 tahun.
“Wah… Mama Tisya memang ingin Ninta tinggal di panti ini. Berarti suatu hari dia pasti datang untuk membawa Ninta pulang.”
Suaranya begitu penuh keyakinan. Padahal belum tentu Tisya yang entah dimana akan kembali membawanya pulang. Sudah banyak anak panti ini yang pada ujungnya akan mendapatkan orang tua asuh. Masalah nasib mereka selanjutnya hanya Allah yang tahu. Karena pengurus panti tak dapat memantau perkembangan mereka lebih lanjut kalau mereka tak lagi tinggal di panti ini.
“Iya… Mama Tisya pasti akan datang dan membawa Ninta pulang. Makanya Ninta harus jadi anak yang baik dan taat sama Allah. Mama Tisya pasti senang kalau mengetahui Ninta menunggu kedatangannya dengan sabar.”
Anggukan kecil ia lakukan beberapa kali. Wajahnya begitu bahagia. Aku telah berbohong untuk membahagiakannya kembali. Maafkan hambamu ya Allah… Aku beristighfar beberapa kali dalam hatiku. Memohon ampunan dari-Nya, jangan sampai aku terbiasa melakukannya.

Bersambung ke sini.

Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes