23 Mei 2011

MALAM TERAKHIR


Gambar pinjam di sini.
Mataku berkeliaran kemana-mana. Mencoba mencari secercah cahaya yang mungkin menyelinap masuk melalui lubang-lubang angin yang ada di dekat jendela. Lolongan anjing membuat keringatku semakin deras. Lelehannya membanjiri dahiku yang sejak tadi aku keringkan dengan ujung lengan kaosku. Hawa udara rasanya makin lama mendekati hawa gurun pada siang hari. Dari kejauhan rasanya ada suara yang mendekat ke tempatku sekarang berada. Gemerincing suara logam yang bergesekan dengan dinding semen. Mungkinkah itu suara pisau? Suara yang melengking membuat bulu kudukku berdiri semua. Apakah Riana akan benar-benar mengotakkan janjinya?


Aku harus bercerita sedikit mengenai Riana. Saudara kembarku. Namun meskipun kembar ia jauh beruntung dariku. Apa pun yang ia inginkan, dengan gampang ia miliki. Status dalam keluarga, ia menjadi bagian terbaik yang ada. Kami selalu dibanding-bandingkan. Aku, Riani, selalu menjadi cerminan bagian buruk dalam keluarga. Seperti ada yang salah dengan kelahiranku yang terpaksa bersaudara kembar dengan Riana yang terlalu sempurna. Riana membuat bangga keluarga dengan semua prestasinya dan aku tetap menjadi itik buruk rupa. Maaf, bukan secara fisik maksudku. Aku dan dia berbeda secara kualitas isi bukan kualitas bungkus.

Riana juga mendapat status dalam masyarakat dengan mudah. Siapa coba yang akan menolaknya dalam kehidupan sosial? Ia punya banyak bakat dan mahir dalam hal apa saja. Masyarakat juga pasti menerimanya karena ia memiliki pekerjaan yang sangat baik. Sedang aku hanya menjadi seorang penulis dengan penghasilan kecil dan tak pernah menghasilknan tulisan best seller. Kadang aku berpikir kenapa aku hanya mendapat bagian sisa yang buruk dalam diriku? Kenapa kembar tak membuat kami sama? Kenapa aku berbeda dengannya? Kenapa?

Perlahan-lahan aku merapat ke dinding dan mencoba mencari jalan keluar dari sini. Aku lanjutkan lagi ceritanya boleh kan? Aku lap keringat dulu ya? Keringatku sudah melebihi keringat atlit lari dunia. Napasku yang terengah-engah juga tak terasa sebagai sekedar napas. Sepertinya itu adalah desahan keputusasaan. Riana pasti akan menghabisiku. Tahu kenapa? Dari semua hal yang ia miliki ternyata ia tak berhasil dalam cinta. Laki-laki yang sangat ia kagumi sejak di bangku sekolah tiba-tiba melamarku. Aku? Bahagia pastinya. Bukan karena aku merasa menang sebagai kembarannya. Tapi aku bahagia karena aku sangat mencintai Toni. Aku tak pernah berani mendekatinya karena aku tak yakin bisa mengalahkan kepopuleran Riana. Aku juga tahu ambisi Riana untuk memiliki Toni selamanya.

Lolongan anjing kini terdengar semakin nyaring dan memilukan. Apa itu pertanda bahwa aku akan segera mendatangi Sang Pencipta malam ini? Riana terlalu terobsesi untuk melenyapkanku dan menyamar menjadi diriku agar bisa memiliki Toni. Semuanya sudah ia persiapkan sangat matang. Ia telah merencanakan semuanya sejak awal. Semuanya sangat sempurna dan ini adalah akhir dari impianku untuk menikmati rumah tangga yang bahagia bersama Toni.

Awalnya saat aku mengetahui Toni mendatangi orang tuaku dan menyatakan akan memperistri anak yang selama ini mereka anggap hanya produk gagal, aku bahagia. Waktu itu waktu serasa berhenti seperti napasku yang tertahan karena tak mempercayai itu. Toni bagai pangeran yang tak akan pernah aku temukan walaupun dalam mimpi. Aku melupakan kembaranku sendiri yang pasti akan terkejut setengah mati waktu mengetahuinya. Ia tak hanya kecewa padaku. Ia menginginkan kematianku. Ia tak akan pernah bisa memiliki Toni selama aku masih ada di dunia.

“Riani….”

Suara Riana menggema memenuhi lubang telingaku. Tak hanya suaranya yang terdengar tapi suara benda yang bergesekan dengan dinding semen bangunan ini menyemarakkan ikut memanggilku.

“Aku akan menemukanmu, kamu harusnya berterima kasih padaku karena aku akan membebaskanmu dari kehidupan yang tak mampu untuk kamu hadapi. Aku janji akan membahagiakan Toni.”

Suara itu semakin dekat saat aku menemukan jalan keluar menuju ruangan yang lain. Aku bingung aku berada dimana sekarang? Aku hanya ingat terakhir kali sebelum aku berada di sini aku minum minuman yang dibawakan Riana ke tempat kostku. Apa mungkin Riana menaruh obat tidur di minuman itu? Kenapa harus obat tidur? Ia bisa saja memasukkan racun agar nyawaku melayang. Mati dengan ketakutan seperti ini lebih menyakitkan daripada mati keracunan. Itu menurutku sih, karena aku belum pernah merasakan kematian. Kematian itu seperti apa ya rasanya?

Ruangan berikutnya tak terlihat jelas karena cahaya rembulan hanya mencuri-curi masuk dari lubang angin. Rembulan saja takut dengan Riana, apalagi aku yang akan menjadi korbannya. Apakah tak ada seorang pun di luar sana? Apakah aku memang benar-benar akan mati di tangan saudaraku sendiri.

“Riani…”

Gesekan itu semakin keras. Dugaanku benar. Itu memang pisau. Kilauannya membuatku semakin memucat. Wajahku saat ini mungkin sudah sepucat cahaya bulan di atas sana. Aku semakin tersudut di ruangan ini karena aku belum menemukan jalan keluar berikutnya.

“Riani…”

Suara itu semakin dekat. Aku merasakan tulangku menggigil. Ketakutan semakin memenjarakanku dalam getaran yang tak tertahankan. Aku ingin meleleh saja seperti lilin. Aku tak ingin mati. Aku tak ingin mati sekarang. Aku tak ingin mati di tangan Riana. Aku tak ingin mati dan masuk koran sebagai korban pembunuhan. Aku tak ingin mati.

“Riani…”

Cara Riana memanggilku semakin indah. Ia memberinya nada yang membuatnya terdengar mengalun merdu.

“Aku tak akan menyakitimu Riani. Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan untukmu dan kamu harus tahu kebahagiaanmu bukan bersama Toni.”

Tidak! Itu tidak benar. Aku pasti bahagia bersamanya. Riana tak punya hak untuk memutuskan apa yang akan menjadi kebahagiaanku dan apa yang akan merusak kebahagiaan itu. Aku yang berhak menentukannya. Ini hidupku, bukan kematianku. Aku tak mau berakhir dengan kemenangmu Riana. Aku harus melawannya. Aku pasti bisa.

Aku meraba-raba dinding dan lantai. Mencoba mencari senjata. Sekarang perburuan yang sebenarnya akan dimulai. Apakah aku yang akan menjadi sang pemangsa atau aku yang akan menjadi mangsa itu?

“Aku yang berhak bersama Toni, Riani!”

Aku tak menemukan apa pun. Tapi aku yakin aku yang akan menjadi pemenangnya. Aku tak perlu takut pada Riana meskipun sekarang ia punya senjata yang cukup untuk melenyapkanku. Aku tahu ia sangat pandai memotong anggota tubuh manusia. Seorang dokter spesialis bedah apa yang tak bisa ia potong? Aku juga pasti akan sangat bangga melihat hasil potongannya yang sangat rapi. Riana tak akan menyisakan kemungkinan untukku hidup. Ia akan mengeluarkan semua organ vitalku yang berlumuran darah dengan tangannya sendiri. Ia bisa menjualnya dengan harga mahal kemudian menikmati uangnya bersama Toni.

Aku masih meraba setiap sisi ruangan yang terasa semakin dingin. Membekukan jemari kakiku yang telanjang. Aku tak mau sepatu membuat langkahku melambat. Satu detik saja bisa membuat nyawaku melayang. Aku menahan napasku saat aku sadari langkah Riana semakin dekat. Aku mendengar langkahnya yang juga pelan seperti langkahku. Ia tak membawa alat penerangan apa pun karena ia tak mau aku melihatnya.

“Aku tahu kamu di sini Rian…”

Tahu dari mana dia? Aku tak membuat suara yang berisik yang mengundangnya. Aku juga tak mengeluarkan cahaya yang memancingnya. Tapi ia tahu aku di sini.

“Bau parfummu sangat jelas Riani…”

Parfum? Aku mengumpulkan ingatanku kembali. Aku baru sadar kenapa Riana menyemprotkan parfumnya di jaket yang aku kenakan. Dengan gerakan yang sangat perlahan aku menanggalkan jaketku. Meletakkannya di lantai. Beringsut pelan mencari tempat yang lebih aman. Aku hanya menemukan dinding beku berikutnya. Apakah memang sudah tak ada jalan keluar lagi. Apakah memang harus berakhir seperti ini? Aku ingin hidup.

“Sialan…”

Desahan Riana terdengar jelas di telingaku. Ia pasti menemukan jaket itu dan kecewa karena ternyata aku telah meninggalkannya di sini.

“Kamu mana Riani?”

Aku tak menyahut. Aku tak akan menjawab pertanyaan itu karena itu adalah hal terbodoh yang tak seharusnya aku lakukan. Aku membungkam mulutku dengan tangan. Aku tak mau ia mendengar dengusanku. Apalagi aku sangat takut membayangkan Riana akan mencabik-cabik tubuhku dengan nafsu pembunuhnya.

“Aku hanya ingin bahagia bersama Toni, Riani. Sebentar saja, tolong biarkan aku memiliki keluarga dengannya. Biarkan aku sehidup semati dengannya. Akan aku tularkan penyakit ini padanya dan saat ia telah berada di alam kematian kamu boleh memilikinya Riani. Aku hanya ingin memilikinya selama di dunia. Apa kamu tidak kasihan padaku Riani?”

Penyakit apa Riana? Aku ingin bertanya seperti itu padanya. Tapi mana mungkin? Ia masih sangat menakutkan bagiku. Ia tetap seorang pembunuh di mataku. Riana mungkin sengaja meminta belas kasihan dariku agar aku keluar dari persembunyianku. Aku tak boleh terpengaruh. Aku masih beringsut menjauh dari suaranya.

“Aku terinfeksi HIV, Ni.”

Cinta macam apa yang dimengerti Riana sampai rela menghabisi aku dan menularkan HIV pada orang yang sangat ia cintai? Cinta apa itu? Riana…itu bukan cinta. Cinta seharusnya membuatmu ikhlas untuk menerima kenyataan bahwa aku yang akan mendampingi Toni selamanya.

“Mungkin selama ini kamu iri pada hidupku yang sempurna. Tapi asal kamu tahu Ni, sebenarnya aku sangat tersiksa harus mempertahankan prestasiku melebihi kamu. Sementara kamu tak perlu ambil pusing dengan nilaimu yang turun terus. Aku capek menghadapi ini semua. Capek banget. Aku hanya ingin hidup sebagai diriku sendiri tanpa bersaingan dengan siapa pun.”

Benarkah yang kamu ucapkan itu Riana? Menderitakah kamu harus terlahir sebagai kembaranku? Apakah siksaan yang kamu rasakan melebihi siksaan yang aku jalani sebagai kembaranmu. Hidup di bawah bayang-bayangmu yang sedemikian sempurna. Bukannya aku yang lebih menderita? Bukannya aku yang lebih merana karena kamu memiliki semua hal yang sangat aku inginkan di dunia ini. Kenapa kamu tak mau membiarkan aku bahagia satu kali ini saja, Riana? Apakah mati memang jalan penyelesaian terbaik untuk persaudaraan kita selama puluhan tahun ini?

“Aku capek Riani, aku ingin istirahat.”

Aku menutup kedua telingaku agar tak mendengar ucapan Riana. Aku tak sanggup lagi. Aku juga lelah dengan ini semua. Inginnya mengakhirinya, sayangnya aku tak tahu bagaimana cara yang terbaik menghentikan ini semua. Apa benar kadang jalan terbaik itu terasa berat untuk dijalani? Seperti obat untuk menyembuhkan penyakit terasa sangat pahit di lidah. Aku harus mengambil keputusan untuk kami berdua, jangan sampai Riana yang memutuskannya karena jalan yang itu terlalu menyakitkan.

Aku ingin membujuknya. Tapi aku takut itu akan berakibat fatal karena aku bisa saja gagal memintanya menghentikan ini semua dan malah membuat Riana dengan gampang menemukanku. Bagaimana ini? Aku hanya bisa menahan napas agar ia tak menyadari kehadiranku yang sebenarnya masih ada di sini. Aku masih sangat dekat dengannya. Beberapa langkah saja. Aku harus cepat mengubah posisiku yang sekarang tak lebih seekor tikus yang terperangkap dalam sangkar penuh keju beracun. Aku memejamkan mata saat aku merasakan langkahnya melewatiku yang terus merapat ke dinding yang dingin. Sekarang jarakku dengannya terlalu dekat. Aku tak mampu menjauh karena aku takut Riana akan mendengar napasku yang semakin memburu.

“Riani, aku minta maaf karena membuatmu takut. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya bingung karena kehabisan akal dengan semua kenyataan yang menyakitkan ini.”

Aku melihat kilatan pisau yang dipegang dengan tangan kanannya. Cahaya bulan menyinarinya sebentar saat ia bergerak melewatiku. Aku tak tahu kekuatan mana yang memaksaku untuk merebut senjata yang memberikan perbedaan yang sangat besar apabila ia berada di tanganku. Gerakanku berhasil. Aku berhasil merebutnya.

Tiba-tiba lampu menyala mengagetkanku. Aku berpandangan dengan Riana sesaat. Namun aku kalah cepat menemukan Toni yang berada di ruangan itu dengan sejumlah polisi.

“Toni, Riana akan membunuhku.” Ucap Riana dengan isakan yang dibuat-buat.

Riana segera menghambur ke pelukan laki-laki yang sangat aku cintai. Toni memeluknya tanpa curiga bahwa Riani yang ada di pelukannya bukanlah Riani yang selama ini ia cintai.

“Dia bohong, aku bukan Riana! Aku Riani!”

Polisi segera menodongkan pistol ke arahku. Mereka siap menghadapi aku seakan akulah kriminalnya.

“Letakkan senjata yang Anda pegang ke lantai dan angkat tangan Anda.”

Aku lupa. Aku memang memegang pisau yang tadinya ada dalam genggaman Riana. Sekarang aku tak berkutik karena Riana berhasil menipu semua orang dan menyamar menjadi diriku.

“Tangkap dia, Pak! Dia berniat untuk menghabisi saya. Dia ingin memotong-motong bagian tubuh saya dan menjual organ-organ penting saya pada orang dengan harga mahal.”

Riana semakin memojokkanku. Toni…apa kamu tak mengenali perempuan yang kamu inginkan untuk menjadi istrimu sendiri? Aku kecewa denganmu. Membedakannya saja tak bisa bagaimana kamu bisa memilih satu yang kamu cintai? Apa kamu yakin sebenarnya yang kamu cintai siapa?

Aku mengangkat kedua tanganku. Beberapa polisi segera memborgolku. Aku tak ingin membela diri. Aku tahu Riana yang akan memenangkan pertempuran ini dengan caranya. Cara yang sangat keji.

“Tunggu sebentar…”

Toni melepas Riana yang sejak tadi ada dalam pelukannya. Aku harap ia menyadari kesalahannya mengenali Riani yang sesungguhnya. Belum sempat aku berharap lebih banyak lagi dari itu sebuah tamparan melayang menerpaku. Dari tangan laki-laki yang paling aku percaya untuk membawa kebahagiaan bagiku. Dustakah cinta itu Toni? Salahkah aku berharap lebih padamu?

Aku termangu. Aku hanya memegangi pipiku yang terasa hangat. Bukan saja karena terpaan tangan Toni tapi juga karena air mataku mengalir tak terkendali. Inikah akhirnya? Apakah aku hanya akan menjadi seorang pecundang untuk selamanya? Riani memang seorang pecundang dan bagiku itu sudah sangat biasa.

Polisi tiba-tiba membekuk Riana yang tersenyum penuh kemenangan. Aku tak mengerti. Bagaimana mereka tahu sebenarnya yang palsu adalah dia dan aku yang asli?

Duarrr!!!

Pistol polisi itu meletus di genggaman Riana. Tepat mengenai dada Toni. Darahnya membasahi wajahku. Semuanya ternganga. Kejadiaannya terlalu cepat.

“Aku tak bisa memilikinya begitu juga kamu! Adil kan?”

Pistol itu ia lempar ke arahku dan mengangkat kedua tangannya. Wajahnya puas karena ia berhasil memenangkan pertarungan ini meskipun ia harus membayar mahal untuk itu. Aku ambruk sambil mendekap Toni.

“Ambulan!!!”

Aku membiarkan Toni mengusap air mataku yang terus jatuh di pipi. aku berusaha tersenyum bahagia karena ternyata Toni masih bernyawa. Peluru itu tak menembus jantungnya hanya bersarang sebentar di dadanya. Aku tak menyangka akhirnya lebih dari yang aku harapkan. Tadinya aku hanya bisa berharap aku selamat dari tangan kembaranku sendiri. Sekarang akulah pemenangnya. Aku bukan pecundang lagi. Riana, kaulah pecundangnya, kau yang kalah. Aku pemenang pertarungan ini.

“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku Riani?”

“Matamu yang mengatakannya saat aku menamparmu. Maaf karena melakukan itu.”

“Mataku? Ada apa dengan mataku?”

“Mata tak akan pernah berbohong dan di matamu aku melihat cinta bukan kebencian seperti di mata Riana.”

“Apa itu juga yang membuatmu menginginkan aku menjadi istrimu?”

“Istriku, ibu dari anak-anakku, nenek dari cucu-cucuku.”

Aku tak menginginkan jawaban yang lebih dari itu. Semua ini sudah cukup bagiku. Terlalu banyak cinta yang kamu bawa untukku Toni. Malam ini akan berakhir begitu juga dengan kesedihanku.



Related Posts

MALAM TERAKHIR
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).