FITRI JUNIA: REE KUMBAWA


Seorang sahabat memang seseorang yang tidak akan tergantikan dengan siapa pun di dunia ini. Sampai hari ini pun saya masih merasakan kehadiran seseorang yang saya pikir belum meninggalkan dunia ini. Saya tahu dia telah tiada. Tapi saya masih tak dapat menerima kenyataan bahwa dia memang tidak ada. Bagaimana saya bisa menghilangkan rasa itu? Saya tak dapat melupakan keberadaannya sedikit pun.

Beberapa malam sebelumnya saya bermimpi. Dia datang did hadapan saya dan mengatakan dia tidak meninggal dunia. Bukan. Katanya bukan dia yang meninggal.

Saya merasakan betapa nyatanya mimpi yang saya alami malam itu. Banyak mimpi. Ribuan mimpi telah saya lalui dan saya tahu, tak banyak diantaranya yang benar-benar terasa nyawa. Mimpi tentang Fitjun (Fitri Junia) adalah mimpi yang paling nyata tahun ini.

Semalam saya juga mendengar sahabat kami bercerita bahwa orang tua Fitjun telah membelikannya sebuah sepeda motor. Yamaha. Pilihannya. Sepeda motor itu disediakan untuk persiapan dia mengajar dan menjadi guru. Walaupun saya tahu, dia sama seperti saya. Tidak memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi guru. Dia suka menulis, sama seperti saya. Bahkan dia telah menceritakan sebuah novelya tentang kehidupan yang dia alami sebelum akhirnya menghadap yang kuasa. Tentang seorang lelaki yang membuat kehidupannya kacau.

Tentang semua kekerasan fisik yang dia alami. Saya pikir kematiannya berkaitan dengan lelaki tersebut. pasti ada sesuatu yang terjadi di dalam tubuhnya karena menerima kekerasan dari dia. Saya tak tahu dengan pasti. Apalagi saya bukan dokter.

Saya ingat terakhir kali saya mengantarnya pulang, dia dengan teliti melunasi uang yang dia pinjam dari saya ketika berbelanja di pameran yang kami kunjungi di Pontianak Convention Center. Dia tidak ingin meninggalkan utangnya dengan saya walaupun dia sempat tidak menepati janjinya untuk membeli dua novel saya. Saya sudah cukup senang, dia sempat membaca itu semua. Dia juga bilang menunggu terbitan novel Merajut Jembatan Pelangi yang saya rampungkan lebih dulu dari Memamah Jantungmu.

Belum sempat, saya belum sempat memberikan novel yang dia pesan. Bahkan novel berikutnya yang dia inginkan.

Kerinduan saya beberapa minggu ini padanya akhirnya terbayar melalui mimpi malam itu. Jika diberikan kesempatan saya ingin bermimpi lebih banyak lagi dengannya. Sebelum saya benar-benar kuat melepaskan kepergiaannya. Selamat jalan sahabatku…
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes