Kemarin sepanjang jalan pulang saya mengomel. Ya, saya kesal dengan sangat karena saya tidak bisa mengirim persyaratan untuk mendapatkan ISBN karena saya tidak bisa mengirim fax ke PNRI. Bayangkan, saya tidak boleh mengirim persyaratan tersebut melalui e-mail.

Saya sangat marah dengan kejadian ini, ditambah dengan PMS. Kemarahan saya semakin menggila.

Harusnya saya tidak perlu bersusah payah mencari cara untuk mengirim fax melalui internet jika mereka mau menerima semua persyaratan saya kirim melalui e-mail. Iya, saya merasa terlalu ribet dan nggak hemat kertas tindakan mereka memilih fax sebagai alat komunikasi utama untuk menerima semua persyaratan yang harus saya penuhi.

Sekali lagi saya harus berteriak keras: KENAPA HARUS PAKE FAX KALAU DI DUNIA INI SUDAH ADA E-MAIL?

Saya meneriakkankan semua itu selama saya mengendarai sepeda motor. Saya marah dengan semarah-marahnya. Saya tumpahkan semau saya. Jika saya bisa berhadapan langsung dengan mereka ingin sekali saya menumpahkannya langsung.

Apa yang membuat mereka berpikir bahwa e-mail itu ribet? Fax itu jauh lebih ribet karena harus berhadapan dengan mesin yang sangat tidak hemat kertas.

Untuk menyelesaikan permasalahan saya akhirnya menghadap Om Gugel dan mengutarakan permasalahan saya. Saya mendapat pengetahuan baru yang akhirnya menunjukkan pada saya bahwa diinternet tersedia banyak situs yang bisa mengirimkan fax yang kita inginkan.

Apakah lantas saya langsung bisa tersenyum dengan bibir yang melengkung?

Sama sekali tidak sodara-sodara.
Saya dihadapkan pada penggunaan gratis yang meminta saya memiliki kartu kredit untuk pendaftaran. Bagaimana mungkin saya tidak punya mesin fax jika saya punya kartu kredit. Berpuluh situs yang saya buka dan akhirnya saya terserang migrain.

Kemudian saya menemukan situs yang tidak membutuhkan pendaftaran untuk pengiriman fax. Sayangnya tidak bisa langsung mengirimkan dalam bentuk file, melainkan hanya menyediakan sebuah kotak untuk kita isi dengan tulisan yang akan muncul dalam fax tersebut. Ini juga tidak bisa saya gunakan karena saya harus mengirimkan gambar di dalam fax tersebut.

Sampai beberapa jam kemudian saya masih gagal menemukan cara untuk mengirimkan fax ini.

Hari ini saya memutuskan untuk mengirimkan semua persyaratan untuk mendapatkan ISBN buku saya itu melalui kantor pos dengan biaya Rp7.000.

Saya merasa berubah menjadi nenek-nenek tua yang mengirimkan berkas-berkas melalui kantor pos. di dunia yang telah memasuki era serba digital ini, saya harus mengirim surat melalui pos. Saya benar-benar kecewa dengan sistem yang mereka gunakan.

Yah, tapi mau bagaimana lagi.
Daripada saya ikut memboroskan kertas dengan mengirim fax, mendingan saya langsung mengirimkan berkas-berkasnya. Jadi mereka tidak perlu mengotori banyak kertas melalui mesin fax hanya untuk menerima berkas saya.

Setidaknya saya telah berusaha menghemat kertas.

Itulah pengalaman saya berhadapan dengan kepengurusan ISBN walaupun harus saya akui mereka sangat sabar menghadapi saya yang menelpon beberapa kali dengan agak kesal.

Sekarang saya sedang menunggu proses pendaftaran buku saya. Setelah itu saya akan membuat BARCODE untuk buku saya… hahaha…
Kalau saya berhasil dengan cara manual seperti ini saya boleh nih merintis usaha untuk mengurus ISBN dan pembuatan BARCODE dengan harga terjangkau pastinya. Hahahaha…

Tapi sepertinya caranya akan tetap manual melalui pos, tapi tak masalah, yang penting urusannya kelar…

