5 April 2011

LEBIH PENTING YANG MANA? DIFOLLOW TAPI TIDAK DIBALAS MENTION ATAU DIBALAS MENTION TAPI TIDAK DIFOLLOW

alayer

Saya sudah memiliki akun twitter beberapa tahun dan mengalami beberapa fase selama menggunakannya. Setiap orang memang punya cara masing-masing untuk menggunakannya tidak terlepas diri saya sendiri. Saya punya cara dengan akun twitter saya dan tidak ada satu orang pun yang memiliki hak untuk mengatakan cara saya itu salah.

Fase awal menjadi pekicau saya sama sekali tidak memahami istilah mention, TL, RT, dan teman-temannya yang sangat membingungkan saya. Bisa dikatakan saya tidak G4OEL gitu deh… hahahah… kenapa mesti dituliskan dengan bahasa 4L4Y ya?
emoticon
Ngomong-ngomong soal 4L4Y nih ternyata saya dulu pernah lo menjadi umat penyembah bahasa 4L4Y ini. Saya membuka notes facebook saya yang saya tulis beberapa tahun yang lalu dan baru sadar ternyata saya pernah menjadi kaum 4L4Y. lucu ya? Sekarang saya malah tidak suka membaca tulisan 4L4Y. Dulu saya memang suka menulis huruf yang turun naik gunung atau kecil besar gitu. Tidak peduli berada di awal kalimat atau akhir. Pokoknya kecil habis itu besar. Tidak sampai menggunakan huruf-huruf yang aneh untuk menuliskan satu kata. Contohnya ‘semangat’ ditulis ‘ceumangeuuudtt’. Entah apakah penulisannya sudah benar atau tidak?
emoticon
Saya tidak ingin mengatakan 4L4Y-ers ini salah dalam berkomunikasi. Mereka tidak salah jika mereka berkomunikasi dengan sesama 4L4Y-ers. Tapi sekarang saya merasa terganggu dengan nama yang ditulis dan status yang dengan bahasa ini. Saya kemudian menghapus teman facebook yang terlalu 4L4Y.
emoticon
Ok, cukup sudah membahas tentang mereka. Itu hak mereka untuk berkomunikasi dengan bahasa yang mereka dan saya juga berhak untuk menghapus mereka dari friend list saya. Kembali membahas soal twitter. Saya mengalami beberapa fase yang akan saya bahas satu demi satu.
Fase awal, di tengah kebingungan saya, saya berusaha memahami orang-orang yang berkicau di timeline saya. Nah waktu itu saya disesatkan oleh seseorang yang menganggap bahwa ngetwit itu hanya masalah mencari follower sebanyak-banyaknya. Sehingga saya akhirnya menjadi fakir follower. Ya ampun. Saya pernah menjadi umat fakir ini. Hampir tidak percaya apabila mengingatnya dari awal.
emoticon
Saya merasa setiap orang yang saya follow harus followback saya. Sebegitu pentingnya kah? Saya bahkan bisa manyun seharian kalau mention saya tidak dibalas. Ampunkan saya karena pernah menjadi pekicau yang seperti ini. Saya bahkan marah kepada seseorang di timeline saya.
emoticon
Fase kedua saya mulai paham bahwa ngetwit bukan hanya masalah follower atau following. Tapi saya mulai jarang ngetwit karena saya masih kesal dengan fase pertama. Hahahaha… lalu waktu itu Mbak Temi bilang twitter itu berbeda dengan facebook. Kamu follow seseorang belum tentu seseorang itu harus followback kamu.
emoticon

Sekarang saya berada di fase ketiga. Saya sekarang lebih mementingkan follow orang yang saya pikir memberikan manfaat kepada saya dan bukan umat yang memiliki hobi mengretweet twit orang sampai berkali-kali. Beberapa bulan terakhir ini saya telah mengunfolllow banyak orang. Saya juga tidak memfollow selebritis mana pun.
emoticon
Saya hanya memfollow orang-orang yang saya anggap luar biasa dengan twitnya. Lantas apakah saya mengatakan orang yang tidak saya follow tidak luar biasa? Bukan seperti itu juga kesimpulannya. Bisa jadi saya memang tidak membutuhkan twit yang menurut banyak orang penting. Nah buat apa saya follow akunnya? Bukankah ini akan menyebabkan saya kehilangan banyak twit yang bisa saja akan membuat saya terpingkal-pingkal.
emoticon
Saya juga kurang suka sekarang follow akun yang tidak bernama, yah maksud saya pemiliknya tidak jelas atau hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan tidak begitu penting menurut saya. Walaupun saya terkadang harus membaca twit pertanyaan yang di-retweet oleh orang yang saya follow. Kalau hanya sekali dua kali sih saya tidak akan terganggu tapi kalau satu akun sampai meretweet 9 kali twit orang lain dan hanya menulis satu dua twit pribadi, saya tidak segan-segan untuk mengunfollownya. Paling penting lagi untuk orang-orang yang tidak membalas mention saya. Saya akan langsung menekan unfollow. Itu hak saya, tapi saya tidak mengatakan semuanya berakhir hanya dengan saya menekan tombol tersebut.
emoticon
Saya kadang masih suka memention orang yang tidak saya follow dan tidak follow saya juga. Tidak follow bukan berarti putus tali silaturahmi kan?
emoticon
Bagi saya sekarang yang paling penting adalah mention saya dibalas. Itu cukup menyenangkan saya. Urusan follow memfollow itu nomor dua. Kalau suka silakan follow saya, tidak suka unfollow saja karena saya memang kadang suka memberikan tips dengan kode #tipsesat.
Tertarik buat follow saya? Atau tertarik untuk sekalian difollowback? Mention @honeylizious aja. Jangan takut kalau kamu belum memiliiki follower sama sekali. Siapa tahu saya adalah follower pertama kamu nantinya.
emoticon

Related Posts

LEBIH PENTING YANG MANA? DIFOLLOW TAPI TIDAK DIBALAS MENTION ATAU DIBALAS MENTION TAPI TIDAK DIFOLLOW
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).