Blog Contest

29 April 2011

INI HIDUPKU, BUKAN HIDUPMU

menangis

Terkadang orang lain melihat kedalam kegalauan orang lain dan mencercanya. Memberikan kalimat-kalimat motivasi untuk (yang katanya sih) membantu. Padahal ketika seseorang jatuh dia hanya membutuhkan sebuah lengan yang kuat dan mau membantunya berdiri.



Tiga hari termasuk hari ini, ketika postingan ini ditulis aku menangis.

Aku ingin bercerita apa yang terjadi sebelumnya padaku.

Aku sakit dan aku baru sadar betapa pentingnya sebuah keluarga. Sayangnya aku tak memiliki keluarga yang ideal itu. Minimal yang ibunya mau menelpon anaknya setiap hari untuk bertanya kabar.

Bahkan dia tidak pernah tahu ada apa dengan jantungku yang semakin melemah. Aku sangat merasakan detak yang berbeda. Aku juga telah mampu membaca air muka dokter yang memeriksanya. Dia seakan-akan ingin mengatakan: “Hidupmu tidak akan lama lagi.”

Merdu sekali terdengar di telingaku jika dia benar-benar akan mengatakannya. Seperti kalimat-kalimat yang ada di sinetron.

Bahkan di sinetron masih ada kebahagiaan. Minimal ketika ada yang sakit dan hampir mati ada yang mau peduli.

Aku sekarat. Tapi tak ada yang tahu, mungkin tak ada yang mau tahu.

Aku pikir seminggu yang lalu itu aku akan mati. Aku benar-benar sekarat dan seseorang memberikanku kekuatan untuk bangkit. Meskipun hanya hari itu dia memberikan perhatian untukku, aku memang berhasil bangun dari sakitku dan mampu hidup lagi. Walaupun aku tahu. Di dalam dadaku, ada jantung yang telah lelah untuk berhenti berdetak.

Sebelum aku merasakan keberhentiannya, keinginannku tidak banyak. Aku hanya ingin merasakan kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya. Kasih seorang ayah yang setulusnya.

Sebuah lengan, aku hanya butuh sebuah lengan dan bahu untuk menyandarkan semua lelahku. Lelah yang tak tertanggungkan oleh jantungku.

Aku menghitung hari dengan hampa. Aku ingin menyerah dan membiarkan semuanya berakhir saja.

Mungkin banyak orang yang akan bertanya-tanya dengan sikap anehku. Kalimat mereka akan sama:
ADA APA DENGANMU?
Ini bukan judul lagu, karena suaraku sumbang untuk bernyanyi.

Bagaimana aku mengatakannya? Aku sekarat! Sekarat tanpa ada yang mau memberi sebuah arti di dalam hidupku. Seorang sahabat mungkin. Sebuah bahu. Hanya sebuah bahu yang aku butuhkan untuk meruntuhkan air mataku.

Dadaku sesak degan kesedihan dan penderitaaan. Aku kesepian.

Banyak yang pernah bertanya, kenapa kamu memiliki begitu banyak energi untuk menulis? Yah, memang terkadang aku bisa menulis hingga 10 post sehari.

Masalahnya bukan aku punya banyak energi. Aku nggak punya waktu yang lebih banyk. Tenaga yang lebih kuat juga semakin menipis.

Aku tak dapat membayangkan bila suatu hari tiba-tiba aku tidak kuat lagi untuk mengetikkan jemariku di atas keyboard. Ketika napasku benar-benar berhenti.

Untuk semua orang yang memiliki rumus kehidupan bahagia, tolong jangan berikan rumus hidup kalian padaku. Satu rumus kebahagiaan hanya berlaku untuk satu kehidupan. Tidak akan mempan dalam kehidupanku jika berhasil digunakan untuk hidupmu.

Ini hidupku, bukan hidupmu!

Followers

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Blog Archive