MENERBITKAN BUKU ITU GAMPANG

nulisbuku

Dari jaman baheula sampe sekarang ketika seorang penulis menghasilkan karya pasti terbentur dengan yang namanya penerbit. Aku juga selalu ragu-ragu ketika akan mengirim hasil tulisanku pada beberapa penerbit besar agar mereka mau menerbitkannya dan aku bisa menghasilkan uang yang banyak. Terus bagaimana dong? Aku lantas berhenti menulis begitu? Tidak sih.. aku masih terus menulis dan mencari cara untuk menerbitkan bukuku.


Aku memang sama sekali tidak tertarik untuk menerbitkan buku-buku sekelas Raditya Dika yang bukunya meledak di pasaran. Aku tidak menghasilkan buku yang aku pikir akan gampang dijual dan dinikmati seperti kacang goreng. Aku ingin menulis buku yang jauh dari unsur Jakarta Sentris. Sudah cukup banyak buku bodoh yang beredar di pasaran dengan genre seperti itu.

Aku ingin mengembalikan suatu waktu dimana orang tahu mana yang namanya novel, roman, ataupun cerpen. Aku terganggu dengan keberadaan buku cerita yang sangat cair bahasa Jakartanya. Sudah sedemikian memalukankah bahasa Indonesia yang baik dan tidak Jakarta Sentris?

Ledakan buku-buku Raditya Dika membuat banyak penulis mencoba meniru gaya bahasa konyol dan ringan yang ia gunakan dalam bukunya. Remaja pun lupa dengan berbagai nama yang sangat memegang teguh bahasa Indonesia dalam karyanya. Contohnya Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Ajib Rosidi, dan masih banyak lagi orang-orang yang pantas untuk disebut sebagai sastrawan Indonesia.

Raditya-Raditya Dika yang bermunculan semakin banyak sekarang ini apakah pantas disebut sebagai sastrawan? Entahlah… definisi sastra itu sendiri juga masih agak kabur. Tapi saya melihat perbedaan jelas antara sastrawan jaman dulu dan jaman sekarang. Sastrawan komersil dan bukan komersil. Hidup adalah pilihan dan tak bisa kita pungkiri semua orang ingin terkenal dan punya uang banyak.

Ketika kamu merasa idealismu tidak berkembang dengan mengharapkan keberuntungan seperti Andrea Hirata yang memang memiliki tulisan yang menyastra dan komersil, saatnya kamu untuk mencari percetakan dan mulai menerbitkan bukumu dengan modal sendiri. Kenapa harus menunggu untuk mendapatkan uluran tangan penerbit dan membuat karyamu diterima karena tulisanmu komersil? Penerbit memang tak mau rugi dalam perdagangan. Kalau kamu menomorduakan komersil dan lebih mengedepankan kualitas tulisan kamu bisa mampir di sini.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes