LIBURAN AWAL TAHUN [MEMBOLANG BERSAMA TRANSJAKARTA] (1)

rohani syawaliah

Sebenarnya ini sudah terjadi beberapa bulan yang lalu. Tepatnya bulan Januari 2011 ketika saya memutuskan untuk berliburan murah meriah ala Honeylizious di Jakarta. Memberanikan diri membawa uang secukupnya untuk keliling Jakarta sendirian.


Saya seminggu sebelum berangkat sudah pesen tiket via internet dan mendapat harga yang lumayan terjangkau. Sekitar 900ribuan untuk dua tiket pesawat. Berarti uang di ATM aman untuk keliling dong ya?

Alasan saya memutuskan liburan keliling Jakarta waktu itu karena saya ingin keliling saja. Sekalian membolang mencari jodoh. *lebay*
emoticon gerak

Jujur saya waktu itu sudah sangat putus asa dan sumpek di Pontianak. Saya juga capek dengan rutinitas dan seperti biasa banyak hal di dunia ini membuat saya bosan kecuali menulis dan membaca. Sedangkan saya waktu itu juga muak ketika membaca dan menulis itu tak lebih dari membaca dan menulis skripsi. Saya memutar otak dan mengumpulkan recehan yang saya punya. Akhirnya saya pikir semuanya cukup untuk liburan.
emoticon

Dari Pontianak ke Jakarta

Saya diantar adik saya dengan motor. Menunggu berjam-jam karena ternyata pesawat mengalami keterlambatan sekitar dua jam. Untung waktu itu saya membawa bekal ayam dan kentang goreng. Tidak mengeluarkan uang untuk jajan di bandara yang pastinya mahal minta ampun. Bayangkan, kacang goreng yang biasanya saya beli di mini market seharga seribu perak di bandara harganya lima ribu. Ogah dong ah belinya.

Dari bandara ke hotel

Untungnya saya malam itu dijemput teman yang berbaik hati mau menjemput saya dan mengantar saya ke hotel yang murah. Saya tidak mau menghabiskan uang untuk membayar biaya nginap mahal-mahal. Sayang. Nanti saya tak punya uang cukup untuk pulang. Hahahaha..
emoticon

Sebelum saya dijemput teman yang datangnya terlambat ini saya harus mengalami sedikit hal yang tidak mengenakkan karena hidung sensitif saya. Saya bersin sekitar dua puluh kali dalam jangka waktu 10 menit dan bunyinya sangat keras. Sudah saya duga sebelumnya. Beberapa mata menatap ke arah saya. Saya hanya alergi asap rokok yang mengepul ke arah saya waktu itu.

Saya pindah tempat duduk dari dua orang Oom-Oom yang seenak hatinya menghembuskan asap rokok.
emoticon
Sayangnya saya pilih tempat duduk yang menghadap ke sebuah warung makan di bandara dan di sana ada seorang Oom-Oom yang menatap saya dengan wajah mesum. Oh tidak! Apakah saya terlihat seperti gadis lugu yang siap diperkosa. Siulan! Siul!
emoticon
Saya hanya memaki dalam hati dan membuang pandangan karena Sang Oom masih menatap saya dengan mesumnya.

Setengah jam menunggu dan dikelilingi orang-orang mesum saya akhirnya dijemput oleh teman saya.
emoticon

Dalam perjalanan menuju hotel
Saya tidak percaya ini. Saya dua jam di jalanan hanya untuk mendatangi hotel terdekat. Ah, saya hampir lupa. Saya kan di Jakarta. Bukan di Pontianak. Saya yang telah memilih untuk liburan di sini kan?
emoticon

Di hotel
Saya tidur sendirian di depan televisi yang menyala. Saya terkejut ketika menemukan ternyata film yang diputar adalah film horor. Saya akhirnya tidur kurang nyenyak dan mengakibatkan bangun kesiangan dan berakibat fatal pada perasaan saya.

Kenapa eh kenapa?
emoticon
Saya masuk ke kamar mandi dengan nyawa yang belum terkumpul dan saya memecahkan peralatan di kamar mandi. Saya tidak tahu namanya. Tapi benda itu ada di tempat air untuk menyiram toilet. Saya menyebutnya tutup bak toilet. Apalah itu namanya. Saya tidak sengaja. Sangat tidak sengaja. Apa pun alasannya saya telah memecahkannya.

Check out
Saya siap untuk menggunakan ATM saya apabila saya diharuskan mengganti saat memutuskan untuk keluar dari hotel tersebut. Habisnya lumayan mahal untuk ukuran dompet saya. Maklum wiken. Camkan ini baik-baik! Jangan menyewa hotel saat wiken. Karena kamar promo banyak yang sudah penuh. Ternyata mereka langsung mengizinkan saya pergi begitu saja. Ya sudah saya pergi.
emoticon

Ke Gramedia
Jalanan masih basah karena hujan rintik masih melanda. Saya mendapat informasi dari teman saya bahwa Gramedia tidak begitu jauh dari hotel tempat saya menginap. Jadi saya memutuskan untuk mengunjunginya. Saya beruntung. Seorang tukang ojek berbaik hati mau mengantar saya ke sana hanya dengan ongkos tiga ribu rupiah. Kebaikan hatinya mengejutkan karena saya temukan di Jakarta jadi saya memutuskan untuk membayar lima ribu. Sedekah Bujang Dare, agar mendapat rahmat-Nya.
emoticon

Hari itu saya habiskan dengan makan bubur Betawi di depan Bank Danamon. Saya lupa harganya karena banyak yang saya beli.


Hari kedua
Saya bosan. Saya bingung. Saya tidak tahu harus menghubungi siapa. Saya memang nekad datang sendirian tanpa persiapan apa pun. Saya iseng menghubungi semua nomor di hape saya via SMS. Dari ratusan nomor hape yang membalas hanya satu orang. Orang tersebut menyuruh saya untuk bertemu dengannya di Halte Harmoni. Dia menyuruh saya naik TransJakarta. Saya nekad mengiyakan. Padahal saya belum kenal benar dengan orang tersebut. Daripada nggak punya teman jalan saya memutuskan untuk jalan-jalan dengan TransJakarta untuk menemui orang tersebut.
emoticon

Naik TransJakarta

Muka bengong beli tiket. Saya membayar dan menunggu. Saya memang sama sekali tidak punya gambaran kendaraan mana yang akan saya naiki. Saya percaya dengan keajaiban itu bisa diciptakan. Jadi saya menunggu seseorang yang bisa diberi pertanyaan. Saya menemukannya. Seorang lelaki muda yang sepertinya baik hati. Hahahahhaha…
emoticon
Dia menjelaskan jalur yang saya naiki bahkan dia menemani saya menunggu bus TransJakarta yang harus saya naiki. Sayangnya kami berbeda jalur. Jadi saya harus naik sendirian.
emoticon
Di dalam kendaraan itu memang lumayan nyaman meskipun berdiri. Entah sudah berapa lama saya berdiri dan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada sebuah keluarga.

“Harmoni masih jauh ya?” tanya saya.

“Harmoni? Bukannya ini menuju Ancol.”
emoticon
Sedetik muka saya memucat. Bagaimana ini? Saya salah naik? Siapa yang akan membantu saya?

“E.. tapi.. tapi… tadi tulisan di busnya Harmoni,” saya masih mencoba mempertahankan diri. Saya percaya kok dengan cowok tadi. Tidak mungkin dia berbohong dengan saya?

“Ini Ancol.” Keluarga itu menohok saya dengan kalimat yang sangat meyakinkan.

Habislah saya sekarang. Saya tersesat di Jakarta. Tanpa seseorang yang bisa saya hubungi untuk mengabarkan lokasi saya. Uang di dompet tak lebih dari tiga puluh ribu. Ampun. Saya tidak tahu dimana ATM lagi. Mati!
emoticon
Saya diam beberapa saat dan memperhatikan penumpang lain dengan perasaan merana.

“Kamu turun dimana?” seorang perempuan berbicara pada teman di sebelahnya.

“Harmoni aja, nanggung di sini.”

Harmoni? Berarti saya benar? Bus ini menuju Harmoni? Berarti yang nyasar bukan saya? Tapi keluarga itu? Saya menahan tawa saya yang akan pecah. Bukan saat yang tepat.

Bus terus berjalan dan hampir mendekati halte Harmoni.
“Lho, kok Harmoni ya? Bukan ke Ancol?” keluarga itu panik.
Saya hanya tersenyum.
[Bukan saya yang nyasar. Tapi kalian. Hahahahahaha…]
emoticon

Bersambung ke sini.
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes