KEMARIN SAYA SEMPAT JATUH DAN TERLUKA LALU SEORANG PEREMPUAN ASING MEMBUAT SAYA BANGKIT

twitter

Pernah jatuh? Merasa terpuruk? Merasa tidak berguna. Biasanya saya akan menangis untuk menumpahkan segalanya. Terlampau cengeng atau terdengar bodoh? Menangis atas sesuatu yang tidak berguna semacam itu? Kali ini saya tidak menangis kok. Saya tidak sedepresi itu. Kecuali saya benar-benar butuh hormon kegembiraan saya akan menangis. Saya hanya merasa sedikit minder dengan hasil tulisan saya setelah dihujat sedemikian banyak orang. Menyalahkan saya. Sangat menyalahkan saya.


Lalu apa yang terjadi?

Saya berlari ke twitter land. Hahahaha.. lebay amat nih sampe pake acara berlari. Saya hanya mampir di twitter dan seseorang dengan izin Tuhan menulis twit yang membangkitkan semangat saya. Saya sampai berkaca-kaca membacanya.

Dia bilang ‘kekurangan’ seseorang itu adalah keunikan yang diberikan oleh Tuhan. Itu anugerah bukan kesalahan. Syukurilah semua kekurangan itu karena itu yang membedakan kita antara satu dengan yang lainnya. Kekurangan itu adalah sebuah bentuk keistimewaan apabila dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Contoh kekuranganku?

Aku tidak tahan di ruangan yang menggunakan AC. Aku juga tidak tahan dengan cuaca yang terlampau dingin. Buat orang yang gampang kepanasan ini akan sangat mengganggu. Itu satu sudut pandang. Sudut pandang yang lain, apabila saya berada di ruangan ber-AC itu dengan suami saya. Lain ceritanya kan? Suami saya pasti sangat senang dengan kelemahan saya ini. Dia akan memeluk saya sampai saya tidak kedinginan.


Lihatlah segala sesuatunya dari sudut pandang yang berbeda. Begitu juga ketika ketika memberikan kritik kepada seseorang. Kira-kira orang ini bisa menerima tidak ya bahasa yang saya gunakan? Kalau tidak kenal ada baiknya menggunakan kata-kata yang berisi solusi dan bermuatan positif. Berkacalah pada diri sendiri. Bagaimana rasanya dicaci-maki? Mungkin karena saya tidak memiliki hubungan emosional dengan orang-orang di suatu tempat itu tidak ada yang bersimpati dengan saya. Tapi bayangkan apabila yang dibantai itu adalah anak kamu ketika sedang belajar di sekolah. Satu kelas menghujat dan menyalahkannya. Bagaimana rasanya? Apakah kamu rela anakmu menerima kata-kata negatif?

Fakta seperti inilah berakibat jangka panjang.

Saat seorang siswa menerima muatan negatif secara terus-menerus tanpa ada indikasi untuk mendapat muatan yang positif hasilnya siswa tersebut jadi malas belajar. Minder di dalam kelas. Malu untuk bertanya. Akhirnya mereka tidak berkembang secara optimal. Berbeda ketika masih balita.

Ketika seorang anak belajar berjalan. Biasanya orang tua lebih banyak memberikan muatan positif dan toleransi itu pada saat anaknya masih kecil. Saat anaknya jatuh pada waktu belajar berjalan orang tua akan membantunya untuk berdiri dan membiarkannya mencoba lagi. Bayangkan apabila semua orang tua di dunia ini mengatakan: “Kamu tidak akan bisa berjalan dengan cara seperti itu Nak.”

Setelah itu menggendong anaknya kemana-mana dan tidak mengizinkannya untuk mencoba lagi. Tidak akan ada manusia yang bisa berjalan tegak dong nantinya. Kali aja sih…

Kenapa kita tidak mencoba mengerti diri orang lain dan mencoba untuk memberikan toleransi bukannya menyalahkannya terus sehingga ia terluka dan sakit hati?

Untung yang kalian salahkan itu saya. Saya hanya membenci kalian pada akhirnya. Tapi saya tidak akan pernah membenci diri saya. Tapi bagaimana jika yang kalian hujat itu mengambil jalan pintas untuk membuktikan dirinya benar? Mati bunuh diri misalnya? Nah jadinya akan menambah dosa saja kan?

Kenapa harus seorang perempuan muda seperti saya yang harus mengatakan ini kepada orang tua seperti kalian? Apakah kalian tidak pernah baca buku tentang mendidik anak? Padahal kalian bisa menjelaskan apa yang kalian anggap benar dengan rentetan tulisan yang minta ampun panjangnya.


Lalu kalian mengatakan ‘kami di sini hanya ingin memberikan pembelajaran’, ‘kami tidak pernah sakit hati dengan rating hitam atau minus’, ‘kami tidak akan menanggapinya’, lagi-lagi ucapan kalian terbukti salah besar. Saya mencoba mengetes beberapa warga di sana. Memberikan rating hitam di tulisan mereka. Saya benar. Mereka terpancing dan membalasnya di postingan saya. Katanya semua warga sana ‘berhati besar’, ‘tidak peduli rating’, tapi begitu dikasih rating hitam, membalas pula di postingan saya dengan rating yang hitam. Lucu…

Kalian tidak lebih dewasa dari saya.

Lalu kalian mengatakan saya pengecut dengan menghapus postingan saya. Itu menurut kalian kan? Saya menganggap tulisan saya benar makanya saya menghapusnya. Saya tidak mau kalian mengotori tulisan-tulisan saya dengan komentar kalian yang sok pintar itu. Katanya mengajak belajar. Tapi sok menggunakan bahasa asing dan JAWA. Saat saya minta terjemahkan kalian menganggap saya bodoh kan? Saya memang tidak semahir kalian dalam berbahasa Inggris apalagi berbahasa Jawa. Tapi saya hidup di Bumi Indonesia. Bagaimana komunikasi akan berlangsung efektif kalau kerjaan kalian hanya menuliskan kalimat yang saya tidak mengerti. Ingin menghina saya? Gunakan bahasa Indonesia dengan berani. Karena penggunaan bahasa asing tidak akan sepenuhnya saya mengerti apalagi bahasa Jawa.

Saya hanya ingin bertanya, apakah rumah itu milik orang Jawa?
Share:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

Designed by OddThemes | Distributed by Blogger Themes