22 Januari 2011

HIDUPKU NGGAK JAUH DARI OM-OM: 30 MENIT DI BANDARA, SERASA 30 HARI

Sumpah aku badfeel banget waktu dengar kabar Jakarta macet dan jemputanku telat. Jakarta macet? Bukannya emang sejak lahir kota itu udah ditakdirin untuk macet? But, not now! Di saat aku yang sangat galau ini baru saja tiba dari Pontianak. Pesawatku delay dua jam. Hampir sih, nggak sampe dua jam-an. Aku aja yang terlampau melebih-lebihkan. Tapi kan memang hampir dua jam. Untungnya punya temen baru dari Bogor yang satu pesawat. Om apa ya namanya? Lupa! Pokoknya dia setia banget dengerin omonganku yang ngalor-ngidul, tak tentu rudu lah pokoknya.


Setelah kami tukeran no hape akhirnya waktu keberangkatan pun tiba. Oops! Iya dia minta no hape saya. Entah untuk apa. Nggak ada salahnya kan berbagi no hape dengan orang seganteng dia. Untuk ukuran Om-Om dia ganteng kok, sumpah… hahahaha…

Satu jam lebih berada dalam pesawat saya menikmati pemandangan kota Jakarta. Ternyata ke-delay-an itu membuat saya berangkat malam hari dan bisa menikmati pemandangan yang sangat indah di bawah sana. Kota Jakarta seperti dihinggapi jutaan kunang-kunang. Indah sekali… saya takjub.. sekejab saya merasa ini adalah keindahan yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya.

Kemudian saya terdampar di terminal 1B. menunggu jemputan yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Ini memang gila. Saya janjian dengan seseorang yang saya kenal melalui no hape saja. Anyway, saya memang gila! Saya melakukan semua hal yang 100% nggak akan diizinkan oleh orang tua. Saya meloncati pagar pembatas itu. Saya rasa saya nggak takut menghadapi apa pun. Ketika seseorang telah siap dengan kematian ia tak akan takut sama sekali dengan semua hal yang ada di dunia ini. Bukan begitu?

Kamus saya, mau mati kek, mau idup kek, saya udah melakukan yang saya mau. Terlepas dari semua itu benar atau salah.

Laki-laki itu telat sodara-sodara!

Saya harus menunggunya di depan sebuah toko Rotiboy. Sebuah toko roti seharga 8rebu dengan penjaga yang sangat tidak ramah. Saya tidak melihat seulas senyum pun dari bibirnya. Tapi entah kenapa banyak yang datang untuk membeli. Saya? Sama sekali tidak tertarik. Toh saya telah makan banyak tadi di pesawat. Saya bekal sepotong ayam goreng dan dua bungkus kentang goreng. Kenyang banget nih!

Terus bingung dimana badfeelnya?

Saya duduk membelakangi dua orang Om-Om. Lagi-lagi Om-Om. Mereka ini merokok. Saya pernah cerita dong sebelumnya saya alergi dengan rokok? Mereka pun sukses membuat saya bersin berkali-kali dengan suara sangat keras. Benci banget deh ngeliat ekspresi muka orang yang agak menertawakan bersin saya. Ini memang aneh bagi mereka. Bayangkan saya bersin puluhan kali dalam hitungan menit. Untung saya masih punya batas kesopanan sehingga saya tidak membunuh dua orang itu. Saya menimbang-nimbang untuk pindah duduk. Saat saya menebar pandangan ke sekeliling saya, tatapan saya bertemu dengan sepasang mata Om-Om lainnya. Dia menatap saya seakan-akan berkata, “Hei mau nginep di rumah saya malam ini?” or “Cantik, dingin ya? Mau saya angetin?”

Itu mungkin hanya naluri saya!

Tapi emang mukanya najong banget! Sumpah! Sumpah!

Tatapan kami hanya berlangsung dalam hitungan detik. Saya buru-buru duduk di kursi tunggu yang agak jauh dari dua orang Om-Om yang merokok tadi. Saya mulai menatap layar hape dan tak sengaja bertatapan lagi dengan Om-Om yang ke… ke berapa ya? Saya nggak ngitung… pokoknya yang terakhir ini. Nggak ada lagi Om-Om habis ini. Hahahha…

Saya bertatapan dengan Om-Om yang lagi mampir di tempat makan Baso Malang. Dia seakan-akan ingin mengajak saya makan. Najonggggg! Siapa juga mau ditraktir Om-Om muka mesum kayak begitu. Ogah! Untungnya setelah itu teman saya langsung datang dan membawa saya pergi meninggalkan terminal 1B yang penuh Om-Om itu…

Related Posts

HIDUPKU NGGAK JAUH DARI OM-OM: 30 MENIT DI BANDARA, SERASA 30 HARI
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).