28 Desember 2010

Tentang Sebuah “Ruangan”

Oleh Riani Kasih pada 28 Desember 2010 jam 17:26
riani kasih


Berikut adalah tulisan yang saya kutip dari catatan adik tingkat saya, Riani Kasih. Tulisan aslinya klik di sini.

Riani Kasih

1
Di sini senyap.
Sementara saya tahu di luar telah bising oleh derap rintik menyentuh atap rumah. Lalu menyatu dalam genangan. Lalu terus mengiang.
Pun di sini masih kedap. Bisingnya ditangkap dinding-dinding. Angin pelan menari, mendatangkan wangi tanah yang basah telah. Ingatan saya pun turut basah.

2
Sementara pikiran saya perlahan menyulam remah-remah kenangan yang terjebak dalam kotak ingatan. Mengurai satu-satu serupa rintik yang labuh pelan dan menyatu perlahan. Semua selalu tentang kita. Sebagian dari diri kita cenderung membuka diri dan menerima lagi hubungan sebagai “sahabat” daripada “kekasih” yang saya kira tidak akan mewakili hubungan kita sekarang. Sementara sebagian diri saya menolak turut.

Lalu, ada bagian lain lagi dari diri kita dengan cerdas membangun “tameng” sebagai pertahanan tanpa sepengetahuan. Bagian dari diri kita itu adalah bagian saya. Saya pikir ini adalah ide yang cemerlang, sebab saya tidak mau terlibat dalam kubangan kelam kisah lama. Di sini, di dalam tubuh ini telah saya bentuk "tameng" sekokoh baja, sekuat batu, setegar karang. Jadi, saya kira jika kamu bermaksud menghempasnya lagi, pikirkan saja dulu dengan baik-baik. Sebab kamu perlu menjadi "air” terlebih dulu.

Ada hasil mengurai remah kenangang itu, saya menemukan di mana kita pernah memasang pintu pada “hati”. Kita menyebutnya hati itu “ruangan”, Selayaknya orang memasang pintu di sebuah ruangan, maka pula kita membuat kunci untuk keluar lalu masuk. Ada dua kunci. Satu untuk saya dan satu untuk kamu. Kamu bebas masuk “ruangan itu” dan saya pun. Kita sepakat dengan itu. Ini adalah adil. Hanya saya dan kamu. Kita.

Namun entah, dengan pikiran sederhana, gampang saja kamu menyerahkan kunci “ruangan” itu dengan “seseorang”. Lalu seseorang itu yang bekerja sama denganmu, leluasa memporakporandakan isi ruangan kita. File-file suka, tumpukan kertas kebahagian, tinta kesetian, bola kaca, dan alas kaki, semuanya sudah tidak pada temapatnya. Lalu, pada saat itu juga kalian dengan sukses memberi “jeda” pada hidup saya. Saya benar-benar sukse “tersakiti”

Saya pernah menemukan saat di mana sangat sulit untuk percaya. Bahkan dengan diri saya sendiri. Saat di mana saya bermaksud untuk “mengakhiri” dan justru bagi saya itu adalah saat di mana semua “berawal”. Hati saya langsung bergumam “Sakit yang panjang baru saja “memulai”. Saat itu adalah sekarang. Meskipun kita –kamu dan saya– sudah memastikan alasan mengapa saya –karena kamu, saya tempatkan pada posisi harus turut– kala itu memilih untuk mengakhiri. Memilih untuk masing-masing. Kamu menjalani hidupmu. Saya pun turut demikian. Mengenai “ruangan itu” pada akhirnya kita memilih untuk mengosongkannya. Kamu masih menimang kepada siapa selanjutnya menyerahkan kunci “ruangan” itu (barangkali), sedangkan saya memilih untuk menelan kunci itu. Saya sudah benar dalam memikirkan ini, sebab saya pastikan tidak ada yang pernah masuk ke dalam “ruangan” itu (lagi).

3
Perlu kamu sadari, Saya –menelan kunci “ruangan” itu– membiarkan “ruangan” itu kosong selamanya tentu bukanlah perkara yang sederhana. Sudah dipastikan rumit dan sakit dalam hitungan waktu yang panjang. Mungkin kamu berpikir saya kebal atau saya bengal. Demi Tuhan, saya benar-benar seorang yang lemah. Saya hanya memaksakan diri saya untuk kuat. Saya hanya berusaha berpikir saya bisa maka saya bisa –merangkak keluar dari kelamnya kisah silam– kita.
Saya benar-benar ingin memblokir kamu dari kehidupan saya. Sehingga tidak akan pernah satu kali pun kamu muncul di beranda kehidupan saya kelak. Sekadar untuk bertandang dan membuktikan kalau saya adalah lebih bodoh dari keledai –meminta kunci ruangan saya– dan membiarkan kamu masuk lagi dalam kehidupan saya. KAMU SALAH. Inilah cara saya menyelesaikan masalah saya denganmu. Kamu pun telah sepenuhnya memahami saya, sebab telah berapa milyar milisekon yang pernah kita lewati dulunya hanya untuk “main-main”. Pada akhirnya sepenuhnya saya menyadari sudah cukup waktu saya untuk main-main denganmu. Saya benar dengan “perasaan” ini, kamu salah dengan “perasaan” ini. Lalu kupastikan kelak kamu jatuh cinta pada orang yang tepat.


16.37
28 Desember 2010
Kosong


Related Posts

Tentang Sebuah “Ruangan”
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).