22 Desember 2010

E-MAIL BUAT BANG FRINO

E-MAIL

(GAMBAR PINJEM DI SINI)
Saya awalnya ragu untuk mengikuti workshop ini. Karena fotografi bukanlah bidang keahlian saya. Tapi kata ‘ESAI’ sedikit menggugah niat saya. Saya penulis, ini tantangan baru untuk saya. Saya rasa saya bisa menghadapinya. So, I take it!


Lalu, lalu, apa yang terjadi?

Kondisi tubuh saya yang kurang fit membuat saya agak mengantuk selama pelatihan.

Wah kok jadi kebanyakan curhat yak! Wkwkwkwwkwkwk

Yah sutralah!
Mengenai penyampaian materi dari Bang Frino sebenarnya cukup komunikatif apalagi diselingi dengan cerita-cerita pengalamannya selama menjadi wartawan. Kekurangannya hanyalah bagaimana membuat masalah foto esai ini menjadi sesuatu yang sederhana. Di antara semua peserta mungkin hanya saya yang merasa kesulitan dalam memisualisasikan cerita. Sedang menarasikan foto? Itu hal yang sangat gampang buat saya. Pasti akan sebaliknya pada peserta yang lain.

Nah saya rasa, alangkah lebih baik apabila foto esai ini disederhanakan. Kaitkan dengan sesuatu yang sudah menjadi kebutuhan hidup pewarta foto esai atau yang masih calon pewarta foto esai. Kalo masalah ini dijadikan kebutuhan saya yakin membuat foto esai bukan sebuah beban melainkan keharusan.

Muter-muter kemana lagi saya ngomongnya yak? Yang baca tulisan ini mulai menyerah? Jangan menyerah, tuntaskan bacaan anda!

Saya hanya ingin memberikan sebuah trik latihan untuk calon pewarta foto esai, agar membuat foto esai selain menjadi keharusan tapi juga menyenangkan.

Tapi intermezzo sebentar sodara-sodara!

Apakah istilah ‘pewarta foto esai’ itu benar? Mudah-mudahan benar. Kalo salah tolong diralat ya? Gitu dong! Tos dulu! Give me five! *koplak!*

Pendekatan apa yang ingin saya gunakan? Salah! Tebakan anda salah! Saya tidak akan memelet sebuah foto agar kita bisa menjadi dekat. Bukan begitu caranya… hahahahhaa… nggak nyambung ya? Emang nggak nyambung! Yang bilang nyambung siapa?

Kembali ke poin sebelumnya nih *tarik napas*. Sekarang kita serius ya?

*menahan tawa sebentar*

Saya rasa facebook akan menjadi sebuah media yang akan membuat pembelajaran foto esai ini menyenangkan. Kenapa harus facebook? Karena setiap orang kemungkinan besar punya…

Bagaimana sih cara pembelajarannya melalui facebook kakak Hani yang manis?

*ehemmmm*

Caranya, mulailah dari orang-orang di sekitar kita. ‘Curi’ cerita mereka. Visualisasikan. Narasikan. Buat album dari foto-foto tersebut. Satukan semua foto dengan judul album (ini dianggap sebagai judul narasi dari foto). Terus unggah foto tersebut. Jangan tanyakan pada saya bagaimana cara mengunggah foto. Silakan tanya pada rumput yang bergoyang.

(rumput yang bergoyang: *mengerutkan dahi*)
Sejak kapan rumput yang bergoyang punya dahi? *wkwkwkwkkwkw*

Di kotak keterangan isi dengan cerita yang diwakili oleh foto tersebut. Isi dengan narasi yang tidak terlihat di foto. Selesaikan! Simpan! Simpel kan?

Facebook ada dalam keseharian kita. Buatlah pembelajaran ini menjadi kegiatan rutin.

Setiap masalah bisa terlihat sulit atau gampang bergantung dari sisi mana kita memandangnya. Lihatlah lebih dekat…

Pernah dengar juga kan istilah alah bisa karena biasa? Wkwkwkwkwkkw

Itu aja sih! Semoga bisa jadi bahan pertimbangan untuk penerimaan saya di perusahaan bapak. Heheheh…

*emangnya ini surat lamaran kerja?*

NB:
Sebenarnya pengen ngasih nama juga tadi buat angkatan pertama foto esai.
Antara KOMFOTESA atau KOMFOTES
Artinya simpel : KOMUNITAS FOTO ESAI
Ini nama yang saya pikirkan waktu di ruang pelatihan!

Sekian dari saya

Salam Satu Jiwa! *eh?*
Rohani Syawaliah

Related Posts

E-MAIL BUAT BANG FRINO
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).