4 November 2010

AYAHMU ADALAH AYAHMU DAN AYAHKU ADALAH AYAHKU

ayah
Sebelumnya saya pernah sangat terpukul saat mendengar kabar bahwa ibu sedang menjalani penyiksaan batin di kampung. Saya sudah berusaha menjauh dari kehidupan itu sejak saya berusia 15 tahun.
Sejak SMA saya sudah mulai berusaha untuk hidup jauh-jauh dari keluarga saya. Saya berpikir sangat menyenangkan apabila saya tidak bertemu dengan ayah saya. Sangat menyenangkan. Kenangan buruk saat saya kecil mengingatkan diri saya sendiri bahwa ada perbedaan jauh antara ayah saya dengan ayah milik anak-anak lainnya.

Ayah saya tidak memberikan nafkah yang cukup untuk keluarga saya. Saya bahkan tidak melihatnya berusaha untuk melakukan itu. Sebenarnya saya sangat tidak perduli dengan itu semua. Saya sudah cukup puas melihat keluarga saya tetap bisa makan dengan mengharapkan ibu saya menghasilkan uang lebih banyak dari hari ke hari. Meskipun saya tahu, dia sangat lelah. Dia benar-benar perempuan yang sangat hebat.

*saya menuliskan penelanjangan diri ini dengan berurai air mata. Apa yang saya harapkan dari tulisan ini adalah tak ada satu orang pun yang membacanya.

Saya ingin berbagi sedikit mengenai ibu saya. Perempuan yang menikah pada usia sangat muda. 18 tahun. Menikah sebagai tumbal. Kenapa saya mengatakan ini adalah pernikahan tumbal?

Awalnya karena ayah saya tergila-gila pada ibu saya. Saya akui, dia memang memiliki perpaduan antara Melayu dan Tionghoa yang sangat manis. Bola matanya sangat indah. Mungkin apabila saya laki-laki, bisa jatuh cinta yang gila pada perempuan seperti ibu saya.

Ternyata Allah melukiskan garis perjodohan bak sinetron. Om ibu, adik tiri nenek saya, membutuhkan pekerjaan. Kakek (ayahnya ayah saya) menawarkan pekerjaan itu kepada Om ibu dengan syarat ayah saya boleh menikahi ibu saya. Ibu saya sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ia hanya menurut saja ketika disuruh kencan dengan ayah saya. Pada akhirnya ibu saya pun jatuh cinta pada ayah saya. Dia memang sangat tampan. Darah banjar mengalir deras di tubuhnya.

Pernikahan antara ayah dan ibu saya awalnya tidak disetujui nenek dan kakek pihak ibu. Namun akhirnya mereka mengalah dan membiarkan pernikahan itu terjadi tanpa tahu bahwa anaknya terjebak menjadi tumbal untuk pekerjaan saudara tiri nenek. Sampai sekarang saya masih penasaran ingin bertemu dengannya. Ingin rasanya memperlihatkan semua yang terjadi karena ulahnya.

Saya tidak ingin membahas semua itu panjang lebar. Saya hanya ingin menceritakan betapa terlukanya hati saya ketika ayah saya masih tetap saja tidak mensyukuri apa yang telah Allah persembahkan untuknya. Kurang apalagi semua yang telah ibu berikan untuk benalu sepertinya. Ibu bekerja sebagai guru di sebuah SD dan sore atau malam menjadi tukang pijat. Sebuah pekerjaan yang sangat bertolak belakang dengan pendidikannya. Dia melakukan semua itu karena ingin menguliahkan kami.

Saat mendapatkan kabar dari kampung ingin rasanya pulang setelah sembilan tahun menjauh dari semua yang membuat hati ini sakit. Saya tidak bisa melihat keluarga saya lebih dekat. Saya tahu keluarga saya berbeda. Kemudian karena saya tidak tahu harus berbicara dengan siapa masalah ini, saya menemukan tempat menumpahkannya. Saya menuliskan di status facebook saya mengenai betapa saya bencinya dengan ayah saya. Banyak yang berkomentar menyabarkan saya kala itu. Namun yang paling saya benci adalah seorang sahabat yang telah saya kenal 5 tahun dan dia memiliki ayah yang patut untuk dibanggakan.

Saya tahu dia marah karena saya menghina sosok ayah. Padahal sosok ayah saya dan sosok ayahnya adalah dua hal yang berbeda. Saya tidak peduli dengan ayah orang lain. Saya hanya ingin mengatakan betapa saya tidak mau berada di tengah keluarga dengan ayah seperti dia.

Related Posts

AYAHMU ADALAH AYAHMU DAN AYAHKU ADALAH AYAHKU
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).