Langsung ke konten utama

AYAHMU ADALAH AYAHMU DAN AYAHKU ADALAH AYAHKU

ayah
Sebelumnya saya pernah sangat terpukul saat mendengar kabar bahwa ibu sedang menjalani penyiksaan batin di kampung. Saya sudah berusaha menjauh dari kehidupan itu sejak saya berusia 15 tahun.
Sejak SMA saya sudah mulai berusaha untuk hidup jauh-jauh dari keluarga saya. Saya berpikir sangat menyenangkan apabila saya tidak bertemu dengan ayah saya. Sangat menyenangkan. Kenangan buruk saat saya kecil mengingatkan diri saya sendiri bahwa ada perbedaan jauh antara ayah saya dengan ayah milik anak-anak lainnya.

Ayah saya tidak memberikan nafkah yang cukup untuk keluarga saya. Saya bahkan tidak melihatnya berusaha untuk melakukan itu. Sebenarnya saya sangat tidak perduli dengan itu semua. Saya sudah cukup puas melihat keluarga saya tetap bisa makan dengan mengharapkan ibu saya menghasilkan uang lebih banyak dari hari ke hari. Meskipun saya tahu, dia sangat lelah. Dia benar-benar perempuan yang sangat hebat.

*saya menuliskan penelanjangan diri ini dengan berurai air mata. Apa yang saya harapkan dari tulisan ini adalah tak ada satu orang pun yang membacanya.

Saya ingin berbagi sedikit mengenai ibu saya. Perempuan yang menikah pada usia sangat muda. 18 tahun. Menikah sebagai tumbal. Kenapa saya mengatakan ini adalah pernikahan tumbal?

Awalnya karena ayah saya tergila-gila pada ibu saya. Saya akui, dia memang memiliki perpaduan antara Melayu dan Tionghoa yang sangat manis. Bola matanya sangat indah. Mungkin apabila saya laki-laki, bisa jatuh cinta yang gila pada perempuan seperti ibu saya.

Ternyata Allah melukiskan garis perjodohan bak sinetron. Om ibu, adik tiri nenek saya, membutuhkan pekerjaan. Kakek (ayahnya ayah saya) menawarkan pekerjaan itu kepada Om ibu dengan syarat ayah saya boleh menikahi ibu saya. Ibu saya sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ia hanya menurut saja ketika disuruh kencan dengan ayah saya. Pada akhirnya ibu saya pun jatuh cinta pada ayah saya. Dia memang sangat tampan. Darah banjar mengalir deras di tubuhnya.

Pernikahan antara ayah dan ibu saya awalnya tidak disetujui nenek dan kakek pihak ibu. Namun akhirnya mereka mengalah dan membiarkan pernikahan itu terjadi tanpa tahu bahwa anaknya terjebak menjadi tumbal untuk pekerjaan saudara tiri nenek. Sampai sekarang saya masih penasaran ingin bertemu dengannya. Ingin rasanya memperlihatkan semua yang terjadi karena ulahnya.

Saya tidak ingin membahas semua itu panjang lebar. Saya hanya ingin menceritakan betapa terlukanya hati saya ketika ayah saya masih tetap saja tidak mensyukuri apa yang telah Allah persembahkan untuknya. Kurang apalagi semua yang telah ibu berikan untuk benalu sepertinya. Ibu bekerja sebagai guru di sebuah SD dan sore atau malam menjadi tukang pijat. Sebuah pekerjaan yang sangat bertolak belakang dengan pendidikannya. Dia melakukan semua itu karena ingin menguliahkan kami.

Saat mendapatkan kabar dari kampung ingin rasanya pulang setelah sembilan tahun menjauh dari semua yang membuat hati ini sakit. Saya tidak bisa melihat keluarga saya lebih dekat. Saya tahu keluarga saya berbeda. Kemudian karena saya tidak tahu harus berbicara dengan siapa masalah ini, saya menemukan tempat menumpahkannya. Saya menuliskan di status facebook saya mengenai betapa saya bencinya dengan ayah saya. Banyak yang berkomentar menyabarkan saya kala itu. Namun yang paling saya benci adalah seorang sahabat yang telah saya kenal 5 tahun dan dia memiliki ayah yang patut untuk dibanggakan.

Saya tahu dia marah karena saya menghina sosok ayah. Padahal sosok ayah saya dan sosok ayahnya adalah dua hal yang berbeda. Saya tidak peduli dengan ayah orang lain. Saya hanya ingin mengatakan betapa saya tidak mau berada di tengah keluarga dengan ayah seperti dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan