2 Januari 2010

My True Hater

(29 Desember 2012)

Berbulan-bulan yang lalu. Sebelum muncul para anonim yang menyebarkan kebencian di blog ini, ada kok seseorang yang memang membenci saya. Tapi saya tidak marah dia membenci saya, hak dia untuk melakukan itu. Sama seperti keputusan yang kita lakukan untuk bergaul dengan orang tertentu dan sebagiannya tidak.

Saya yakin dia ini benar-benar membenci saya.

My true hater.

Dia hanya seorang. Pembenci sejati saya, satu-satunya yang saya akui sebagai hater. Karena apa yang dia lakukan benar-benar hater. Dia menunjukkan jati dirinya sendiri dan mengatakan tidak suka. Tak perlu baginya untuk menjadi pengecut seperti banyak 'hater wannabe' yang tak lebih dari kumpulan orang yang iri dengan saya atau blog ini. Entah bagian mana yang membuat dia iri.


But hey, saya tegaskan sejak dulu, sejak blog ini baru berusia beberapa bulan. Bahwa membenci saya adalah sesuatu yang merugikan diri kalian sendiri. Setiap dari kita sudah diberikan anugerah masing-masing dari Tuhan. Ada kekurangan dan kelebihan yang berkesinambungan. Tak ada yang diberikan lebih banyak dari kita karena ukuran Tuhan adalah gelas kehidupan.

Tangan kita sejak lahir telah membawa gelas kehidupannya masing-masing. Ukuran Tuhan adalah penuh. Mungkin kita melihat gelas orang lain lebih besar dari milik kita. Tuhan mengisinya sebanyak yang gelas itu mampu tampung. Hingga penuh. Sama dengan gelas kehidupan kita. Semuanya diisi dengan penuh. Tinggal cara kita menggunakan isi di dalam gelas kehidupan tersebut yang akan dipertanyakan. Apakah kita merasa iri karena ada yang jumlahnya terlihat lebih banyak, padahal Tuhan telah memberikan takaran yang sama.

Penuh, sesuai dengan takaran gelas khidupan kita masing-masing.

Jadi ketika ada orang yang dengan terang-terangan menunjukkan siapa dirinya sebenarnya dan sejatinya tak menyukai saya. Saya hormati itu dan tak perlu bagi saya mengganggu kehidupannya. Dia sendiri sudah pasti tak akan membuka blog ini. Tak akan membaca postingan yang saya tulis. Tak menoleh pada gambar yang saya unggah. Paling akhir, tentu saja, sudah pasti, dia tak akan merasa perlu berkomentar di sini.

Bagi saya, itulah orang yang membenci diri saya sepenuhnya. Tak ada terbersit rasa iri sedikit pun di hatinya. Dia bahkan tak pernah takut menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Kalau setelah ini masih ada orang yang berkomentar dengan identitas yang disembunyikan atau palsu, sebaiknya berkaca dulu, apakah kamu benar-benar membenci saya berserta blog ini atau hanya sekadar iri?

Sejatinya, orang yang benar-benar benci tak akan menganggap orang yang dibencinya itu ada. Tak perlu buang waktu menebarkan kebencian di blog orang yang dibencinya. Kalau perlu, saya yakin, orang yang benar-benar benci pada saya akan memutuskan semua hal yang bisa membuat saya terkoneksi dengannya.

Masih merasa benci dengan saya? Tunjukkan dengan angkat kaki dari blog ini. Ini rumah saya. Bukan rumah kamu.

Related Posts

My True Hater
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).